Bogor 19/10/2009
Hampir sepanjang masa hayatnya, Dulloh 63 th bersama ibundanya yaitu mak "Amah" yang umurnya diperkirakan kisaran 100 tahun-an memecah batu yang diambil di sungai Cilwung sebagai materi bahan bangunan.
Bengkel kerja Dulloh dan ibundanya terletak di Pangkalan I disamping lapangan PDAM Bogor.Untuk menghasilkan satu mobil col engkol batu krikil bahan bangunan bersama
dengan ibunya, ia memerlukan waktu selama tiga hari untuk mengumpulkan dari sungai dan memecah batu tersebut satu persatu.
Kemudian batu tersebut di jual seharga Rp. 120.000 satu untuk satu bak mobil col engkol tersebut bila diambil sendiri di tempat tersebut. Bila telah sampai toko material, batu krikil tersebut dijual kisaran Rp. 200.000-an. Kegiatan pemecahan batu tersebut telah berlangsung turun temurun, ungkap pak Dulloh.
Beliau bercerita, dahulu kala air sungai Ciliwung airnya dapat langsung diminum oleh masyarakat. Masa itu saat masyarakat sedang beristirahat makan siang setelah bersawah, mereka dapat langsung meminum air sungai Ciliwung tanpa melalui proses dimasak terlebih dahulu.
Ditengah hiruk pikuk moderenisasi kota Bogor seperti sekarang ini, sosok pak Dulloh beserta ibundanya merupakan sosok masyarakat yang tangguh dan tidak terlalu
banyak terpengaruh, karena pekerjaan mereka adalah type pekerjaan kuno yang hanya mengandalkan tenaga dan kemauan hidup yang keras. (agungpsiko)
link=
http://www.kotahujan.com/2009/10/dulloh-dahulu-air-ciliwung-dapat.html
Adalah sebuah tempat di mana KPC pernah mendapat pengalaman menarik di bulan Agustus lalu. Kedung Halang, sebuah kelurahan di aliran Ciliwung yang menarik. Dari segi tumpukan sampah, mungkin Kedung Halang tak jauh beda dengan wilayah2 sepanjang aliran Ciliwung lain di Kota Bogor. Namun di tempat ini setidaknya tak hanya sampah yang dapat ditemui. Tapi juga kompleks perumahan kelas menengah yang temboknya langsung berada di bibir sungai. Juga ada tempat pengambilan air (intake) PDAM untuk memenuhi kebutuhan air minum di Kabupaten Bogor. Kalau kita sedikit jeli, kita juga bisa bertemu dengan orang-orang tua (berusia lanjut) yang masih bekerja keras memecah batu-batu sungai menjadi kerikil.
Itulah sekelumit tentang Kedung Halang, terutama suasana di aliran Ciliwung, di daerah sekitar Lapangan PDAM. Anda ingin tahu lebih banyak .... mudah saja, tak perlu bertanya ... silakan melangkahkan kaki dan bergabung dengan aksi mulung KPC ke-30, seperti pengumuman berikut ini.

Itulah sekelumit tentang Kedung Halang, terutama suasana di aliran Ciliwung, di daerah sekitar Lapangan PDAM. Anda ingin tahu lebih banyak .... mudah saja, tak perlu bertanya ... silakan melangkahkan kaki dan bergabung dengan aksi mulung KPC ke-30, seperti pengumuman berikut ini.

Keringat segede2 jagung mengalir deras dari pelipis dan lipatan perut, sesaat setelah sejenak mampu menenangkan diri di Bis Miniarta menuju Depok yg akan membawaku balik ke rumah. Kembali ikutan mulung setelah 2 bulan absen karena malaria tropikana. Emang niat dari rumah ndak akan lama dan mungkin tidak sampe ancrub. Maklum kalo abis sakit jadi ngeri2 kalo mau capek2.Bener juga. Naik ojeg dari Tugu Kujang. Dia menurunkanku di Jembatan Pemuda. Pulo Geulis mah ieu Bu, sarannya santun. Lamun kantor Kelurahan na mah palih ditu, sambil menunjuk ke seberang jalan. Ada tukang es kelapa muda dan beberapa motor parkir di depannya.
Dengan gagah berani, seperti biasa, aku pun berjalan menuruni tangga, menuju jembatan yg mengantarkanku ke sisi lain dari Sungai Ciliwung, ke rumah2 petak berdempetan uyel2an, ala sempur bgitu deh. Tertegun sejenak melihat kesibukan sungai. Orang mandi atau buang air sambil merendam hampir setengah bagian bawah badannya – yg jadi penasaran kayak apa dinginnya yah, move on.
Tidak kulihat ada baliho besar KPC. Ndak mungkin KPC mulung tanpa masang baliho gede. Itu udah SOP nya begitu. Kusempatkan menikmati pemandangan sungai dari atas jembatan. Tentu saja dengan resiko diliatin orang. Karena memang tuh jembatan alat transportasi penting buat penduduk kampung ini. Jadi orang lalu lalang. Dari mulai ibu2 dasteran yg nyuapin anak, atau mbak cantik SPG counter cosmetic di mall sekitaran.
Kusapa seorang bapak. Ningali anu nuju mulung plastik di ciliwung? Nggak, katanya ngeloyor tidak peduli. Kuputuskan berjalan kembali ke jalan aspal, jalan riau yah, menyusuri sungai ke arah hulu. Ada satu keluarga yg sedang mencuci motor. Kuputuskan menyapa sang ibu yg sedang menggendong anaknya. Agak lebih ramah menjawab. Tapi jawaban yg sama. Mereka tidak tahu. Lebih tepatnya tidak peduli. Sang suami yg belepotan sabun sedikit lebih ramah. Mungkin kasian liat perempuan ‘turis jepang’ (wah seneng tuh si Ejhonski) seperti orang ilang.
Terus berjalan sampai lapangan. Ada kerian ‘pasar malam’ di sana. Kincir angin dan komedi putar. Sayang masih tutup. Kalo ndak, bisa naek dulu, ‘mary goes around’.
Kuamati sekitar. Memang nih sungai bercabang. Menduga-duga apakah mulung dilakukan di sisi sebelah sana. Niatan untuk bertanya ke seorang bapak, urung dilakukan. Dari percakapan telponnya terdengar lebih tersesat dari aku. Tiga orang kucoba telp. Semuanya tidak dijawab. Tentunya mereka sudah ancrub. Een sedang ngelayap di Salatiga. Ternyata! Sekalian ajah ngobrol ama dia yg setelah balik tour de java ndak sempat lapor. Hehe.Kuyakinkan diri bahwa titik mulung Pulo Geulis memang di seberang jembatan. Selagi jalan, tukang ojek yg tadi menyapa ramah. Udah ketemu orang mulungnya Bu? Ada seorang anak laki2 yg kemudian kutanyai. Dia berusaha membantu dengan menceritakan ciri2 yg kayaknya lebih mirip tukang kredit. Rambut na gondrong tah sebahu, mawa ransel oge kitu, sambil menunjuk ke ransel yg kupakai. Tuh kaditu kahandap. Dia pun menunjukkan jalan sambil kuikuti dari belakang, menuruni sejumlah anak tangga dibuat dari batu bata, curam menuju ke sungai. Kuhentikan langkah ku karena di depanku ada 3 orang laki2 yg sedang asik mandi. Sebuah mata air kecil mengalir di pancuran bambu.
Keluarga pencuci motor. Sang bapak menyapa ku ramah. Mungkin lebih karena kasihan. Si ibu lebih membantu kali ini. Dia menyarankanku untuk terus saja menyeberang jembatan dan pergi ke sisi sungai yg sebelah sana. Padang Beunghar katanya.
Setelah berjalan menyusuri gang, menajamkan insting saat memutuskan mau belok kiri atau kanan, akhirnya kutemukan jembatan kedua. Kulihat baliho besar KPC. Senangnya. Tapi perjalanan nyasar ku pagi ini yg sekaligus menjadi kampanye terselubung, belum berakhir. Karena beberapa pertanyaan ke orang yg lewat membuatku merasa sakit. Betapa nge-gampanginnya orang2 kita ini. Tah tinggal muter aja. Dan kulihat di depan mata dua buah gang kecil diantara rumah2 berdempet2. Gang ini tidak bisa dengan mudah dikenali. Percayalah aku masih harus berjalan menyusuri gang, berbelok, nemu jalan aspal, nanya ke ibu2, masuk ke gang yg cuman muat buat jalan satu orang dan satu solokan air got. Sebelum bisa melihat sebuah jalan aspal, dead end.
Kita harus mengubah mindset kita dan menyesuaikan diri dengan mereka. Orang2 ini tidak pernah pergi jauh dari cubicle nya. Jadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana sebaiknya memberi petunjuk untuk gang kecil seperti labirin ini. Dan betapa belibetnya gang-gang di daerah ini.Pagi ini aku hanya berkesempatan mulung sebentar saja. Tidak sampe penuh karung sampah ku. Selain karena udah punya janji lain. Juga kombinasi dengan rasa jijik yg memuncak full sampai ke ubun2. Suguhan pertama saat kutemukan titik mulung. kombinasi sampah plastik, tempe busuk, ampas kelapa, pampers yg menggembung karena tentu ada isinya, lalat hijau dan ‘pisang goreng’ mengambang bertebaran. ada 50 anak manusia ancrub di tangga pulo geulis. anak2 gembira berenang di pagi yg indah, ibu2 mencuci baju, laki2 mandi, beberapa orang plus membawa ayam jagonya sambil diusap2, abg yg sedang curhat diantara batu2 gede yg memang terasa hangat kena matahari pagi. kalo sungai begitu pentingnya buat manusia, kenapa masih buang sampah ke sini?Begitulah yg harus kita lakukan. Ubah mind set kita. Pake cara berpikir kita untuk memahami mereka. Emang udah dari sononya kalo sungai memang tempat membuang. Anehnya projek2 besar pengelolaan air seperti enggan menyentuh sisi itu. Kegiatan2 yg jauh dari mengubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Coba tolong bantu sebutkan jika memang ada!
Pagi ini lebih tepat aku melakukan kampanye terselubung. Kubuat orang2 itu merasa heran, ada turis jepang masuk kampung. Kuajak mereka berempati betapa susahnya menemukan titik mulung Pulo Geulis. Kubiarkan mereka mendengarkan ocehanku tentang besarnya baliho KPC dan semua simbol dan ajakan agar turut serta menjaga sungai. Alih2 berterimakasih, mereka malah mengeluarkan pandangan aneh penuh tanda tanya kepada sang turis jepang. Biarlah. Kita coba lagi minggu depan dengan metoda lain yg lebih kreatif. Semoga hari ini aku berbuat baik untuk kelestarian Sungai Ciliwung. Bagaimana dengan anda, apa yg anda lakukan hari ini untuk sungai mu?
cerita jujur ini dibuat oleh Rita Mustikasari alias Itok sang "turis Jepang"
Sungguh ini bukan sebuah upaya main2. Ini mungkin bisa dikategorikan sebagai upaya yg lumayan serius. Betapa tidak nadzar mulung rutin setiap hari minggu harus dijalankan tanpa reserve, walau suasananya terasa kurang mendukung. Ketahanan mental dan fisik para laskar karung memang sedang diuji.
Pemulungan minggu lalu (23 Agustus 2009) bertepatan dengan hari kedua puasa ramadhan. Tak ayal mental pun terasa menciut. Walau terik matahari tak lagi terasa menyengat di sore itu, namun tubuh rasanya berat untuk melakukan pemulungan sampah. Tenaga rasanya sudah habis dari sejak awal turun ke sungai. Tenggorokan makin kering. Sementara bau sampah busuk masih saja memenuhi oksigen yang berputar di depan hidung para laskar. Saya jadi teringat cerita suasana di gurun pasir. Dimana onta2 pun berjalan lamban di bawah sengatan matahari. Melelahkan ... melelahkan ... dan melelahkan.
Di saat semua orang masih menikmati libur pada hari-hari awal puasa, para laskar karung berjuang mati2an dengan anakonda di Lebak Kantin. Ciliwung memang sebuah tempat yang sangat menantang. Tumpukan sampah seakan tak pernah ada habisnya. Syukurlah para laskar karung yang lelah masih menyimpan semangat membara demi memenuhi janji pada Ciliwung. Tercatat sembilan laskar karung berjibaku dengan tenaga yang tersisa di sore itu. Ada Kapiten Nono, Mas Kikuk, Ruby sang biksu Tong, Indri yang selalu riang, Kang Hendi dan Awey yang bersemangat bak petualang sejati, Hapsoro yang berusaha tampil segar, Andrew sang bule Inggris dari DTE, dan seorang ibu asal Tanah Sareal di sana.
Segala jenis sampah anorganik dipungut untuk kemudian masuk dalam karung2 plastik. Lumayan juga dalam kondisi lemah ini para laskar karung berhasil menangkap beberapa anakonda di sana. Saya tak sempat menghitung berapa jumlah karungnya. Namun, setidaknya mata kami semua melihat ada lebih dari 20 karung yang terkumpul. Saya rasa ini adalah sebuah prestasi.
Memang para warga sekitar tak ada yang turun membantu. Namun, saya sempat melihat seorang ibu yang memasang tulisan di atas kertas pada jembatan gantung di atas kami. Kertas itu bertuliskan "jangan buang sampah ke sungai". Ibu itu menjelaskan pada saya bahwa ia prihatin dengan sikap warga sekitar yang masih saja membuang sampah ke sungai. Memang ketika kami 'mulung' sempat kami menjumpai beberapa warga yang melemparkan kantong2 plasting berisi sampah langsung ke badan sungai.
Akhirnya ketika saat sholat maghrib sudah diambang pintu, para laskar karung memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya. Kami semua beranjak dari sungai dengan perasaan lega. Saat berbuka tinggal sebentar lagi. Mulung hari tersebut telah diselesaikan dengan sukses.
Semoga tiga hari minggu ke depan, para laskar karung KPC masih setia melakukan aktivitasnya. Sekalipun ini dilakukan di bulan puasa. Amiiin ....
gambar onta di atas diunduh dari laman ini, dan gambar animasi kelelahan diunduh dari laman yang ini.
Pemulungan minggu lalu (23 Agustus 2009) bertepatan dengan hari kedua puasa ramadhan. Tak ayal mental pun terasa menciut. Walau terik matahari tak lagi terasa menyengat di sore itu, namun tubuh rasanya berat untuk melakukan pemulungan sampah. Tenaga rasanya sudah habis dari sejak awal turun ke sungai. Tenggorokan makin kering. Sementara bau sampah busuk masih saja memenuhi oksigen yang berputar di depan hidung para laskar. Saya jadi teringat cerita suasana di gurun pasir. Dimana onta2 pun berjalan lamban di bawah sengatan matahari. Melelahkan ... melelahkan ... dan melelahkan.
Di saat semua orang masih menikmati libur pada hari-hari awal puasa, para laskar karung berjuang mati2an dengan anakonda di Lebak Kantin. Ciliwung memang sebuah tempat yang sangat menantang. Tumpukan sampah seakan tak pernah ada habisnya. Syukurlah para laskar karung yang lelah masih menyimpan semangat membara demi memenuhi janji pada Ciliwung. Tercatat sembilan laskar karung berjibaku dengan tenaga yang tersisa di sore itu. Ada Kapiten Nono, Mas Kikuk, Ruby sang biksu Tong, Indri yang selalu riang, Kang Hendi dan Awey yang bersemangat bak petualang sejati, Hapsoro yang berusaha tampil segar, Andrew sang bule Inggris dari DTE, dan seorang ibu asal Tanah Sareal di sana.
Segala jenis sampah anorganik dipungut untuk kemudian masuk dalam karung2 plastik. Lumayan juga dalam kondisi lemah ini para laskar karung berhasil menangkap beberapa anakonda di sana. Saya tak sempat menghitung berapa jumlah karungnya. Namun, setidaknya mata kami semua melihat ada lebih dari 20 karung yang terkumpul. Saya rasa ini adalah sebuah prestasi.
Memang para warga sekitar tak ada yang turun membantu. Namun, saya sempat melihat seorang ibu yang memasang tulisan di atas kertas pada jembatan gantung di atas kami. Kertas itu bertuliskan "jangan buang sampah ke sungai". Ibu itu menjelaskan pada saya bahwa ia prihatin dengan sikap warga sekitar yang masih saja membuang sampah ke sungai. Memang ketika kami 'mulung' sempat kami menjumpai beberapa warga yang melemparkan kantong2 plasting berisi sampah langsung ke badan sungai.
Akhirnya ketika saat sholat maghrib sudah diambang pintu, para laskar karung memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya. Kami semua beranjak dari sungai dengan perasaan lega. Saat berbuka tinggal sebentar lagi. Mulung hari tersebut telah diselesaikan dengan sukses.
Semoga tiga hari minggu ke depan, para laskar karung KPC masih setia melakukan aktivitasnya. Sekalipun ini dilakukan di bulan puasa. Amiiin ....
gambar onta di atas diunduh dari laman ini, dan gambar animasi kelelahan diunduh dari laman yang ini.
Ramadhan Ramadhan bulan penuh kesucian
Ramadhan Ramadhan bulan penuh kebersihan
KPC KPC tiap minggu mulung terus
KPC KPC semangatmu jangan kendor
Ramadhan Ramadhan sebulan penuh Ramadhan
KPC KPC Empat minggu penuh KPC
Ramadhan yang agung
dirimu ku sambut
kebersihan mu
KPC yang riang
dirimu ku sambut
Kesetiaan mu
Ramadhan Ramadhan bulan penuh kesucian
Ramadhan Ramadhan bulan penuh kebersihan
KPC KPC tiap minggu mulung terus
KPC KPC Semangatmu jangan Kendor
Ramadhan yang agung
dirimu ku sambut
di tjiliwoeng
KPC yang riang
dirimu ku sambut
di tjiliwoeng
tjiliwoeng tjiliwoeng harapanku tjiliwoeng
tjiliwoeng tjiliwoeng kebanggaan kota bogor
tjiliwoeng tjiliwoeng tiap minggu ada KPC
tjiliwoeng tjiliwoeng kebersihanmu mimpiku
setiap orang bilang aku gila
setiap orang bilang aku setres
demimu tjiliwoeng kan ku lakukan
demimu tjiliwoeng kanku korbankan waktuku
kebersihanmu
dambaan kita
kejernihan mu
impian kita
Ramadhan Ramadhan bulan penuh kebersihan
KPC KPC tiap minggu mulung terus
KPC KPC semangatmu jangan kendor
Ramadhan Ramadhan sebulan penuh Ramadhan
KPC KPC Empat minggu penuh KPC
Ramadhan yang agung
dirimu ku sambut
kebersihan mu
KPC yang riang
dirimu ku sambut
Kesetiaan mu
Ramadhan Ramadhan bulan penuh kesucian
Ramadhan Ramadhan bulan penuh kebersihan
KPC KPC tiap minggu mulung terus
KPC KPC Semangatmu jangan Kendor
Ramadhan yang agung
dirimu ku sambut
di tjiliwoeng
KPC yang riang
dirimu ku sambut
di tjiliwoeng
tjiliwoeng tjiliwoeng harapanku tjiliwoeng
tjiliwoeng tjiliwoeng kebanggaan kota bogor
tjiliwoeng tjiliwoeng tiap minggu ada KPC
tjiliwoeng tjiliwoeng kebersihanmu mimpiku
setiap orang bilang aku gila
setiap orang bilang aku setres
demimu tjiliwoeng kan ku lakukan
demimu tjiliwoeng kanku korbankan waktuku
kebersihanmu
dambaan kita
kejernihan mu
impian kita
Setelah minggu lalu para laskar karung mencoba segala ilmu kanuragan dalam penaklukan anaconda di Lebak Kanting, Sempur. Hari minggu ini pendekar2 sakti mandraguna tersebut kembali menyatroni sarang anaconda yang sama.
Kenapa mereka kembali? Rupanya tugas mulia mereka belum lagi tuntas. Sekawanan anaconda berumur puluhan tahun masih juga bercokol di balik2 batu Ciliwung. Rupanya selama ini kawanan anaconda itu tidak tampak karena tertutup air. Begitu Ciliwung surut airnya, maka menyembul-lah kepala2 meraka diantara bebatuan sungai.
Maka, tak perlu diragukan lagi, wahai pendekar laskar karung. Mari taklukan anaconda yang bercokol di wilayah Lebak-Kanting Sempur. Seperti juga minggu lalu, lokasi kita masih sama. Jangan lupa agar datang tepat waktu, sebab kawanan anaconda sudah menunggu untuk kita taklukan ...
Mau tahu lokasinya di mana? Silakan baca terus (klik selengkapnya)

Kenapa mereka kembali? Rupanya tugas mulia mereka belum lagi tuntas. Sekawanan anaconda berumur puluhan tahun masih juga bercokol di balik2 batu Ciliwung. Rupanya selama ini kawanan anaconda itu tidak tampak karena tertutup air. Begitu Ciliwung surut airnya, maka menyembul-lah kepala2 meraka diantara bebatuan sungai.
Maka, tak perlu diragukan lagi, wahai pendekar laskar karung. Mari taklukan anaconda yang bercokol di wilayah Lebak-Kanting Sempur. Seperti juga minggu lalu, lokasi kita masih sama. Jangan lupa agar datang tepat waktu, sebab kawanan anaconda sudah menunggu untuk kita taklukan ...
Mau tahu lokasinya di mana? Silakan baca terus (klik selengkapnya)

Para pembaca dan penggemar blog yang budiman. Dengan bangga kami ingin kabarkan bahwa "aksi mulung" ke-20, Minggu 26 Juli 2009 tetap terus dilakukan. Dimohon para pemulung tetap dan tidak tetap, para calon pemulung, para pemimpi, dan para pendukung mulung di Ciliwung di seluruh penjuru dunia agar meluangkan waktu dan tenaganya.
Lalu bagaimana cara menuju ke lokasi tersebut?Silakan simak dan baca baik-baik petunjuk di bawah ini:
- Dengan kendaraan sendiri (dari Bogor): ikuti jalan menuju ke arah Cibinong/Jakarta (bukan tol) --> belok kiri di Kedung Halang, ke arah jalan alternatif menuju Pemda Bogor (Jl Raya Pemda-Kedung Halang), setelah talang air yang melintas di atas jalan Raya Bogor-Cibinong --> perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> belok kiri di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> ikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Darmaga (angkutan umum): menuju terminal Bubulak --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Baranang Siang (alternatif 1 angkutan umum): naik angkot 09 jurusan Warung Jambu/Ciparigi --> turun di pertigaan Jalan Baru --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Baranang Siang (alternatif 2 bis kecil): naik bis kecil jurusan Pasar Minggu atau Kampung Rambutan atau Depok atau Cibinong/Citeureup --> turun di talang air Kedung Halang yang melintas di atas jalan Raya Bogor-Cibinong --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
- Dari arah Merdeka (angkutan umum): naik angkot 03 jurusan terminal Baranang Siang --> turun di Jalan Pajajaran, naik angkot 09 jurusan Warung Jambu/Ciparigi --> turun di pertigaan Jalan Baru --> naik angkot 32 jurusan Cibinong, bersiap-siap turun di Jalan Raya Pemda - Kedung Halang, perhatikan pompa bensin pertama di sebelah kiri jalan --> turun di Jl. Pangkalan II (ada plang Pesantren Al-Anshar di ujung jalan tsb) --> berjalan kaki atau naik ojeg mengikuti jalan tsb ke arah sungai --> cari rumah Pak RT 02 (Pak Nana) --> lokasi mulung di belakang rumahnya.
Penjelasan (mudah2an bisa) singkat saya begini.
Malaria terjadi karena adanya gigitan nyamuk. Biasanya ini terjadi pada daerah2 endemik malaria seperti Ujung Kulon, hutan-hutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Menilik cerita sejarah masa lampau, Jawa juga pernah menjadi daearah penyebaran malaria. Korbannya ketika itu (yang diberitakan) adalah para meneer dan mevrouw berkebangsaan Eropa yang datang ke Jawa. Mungkin kala itu sebagian besar Pulau Jawa masih berhutan-hutan. Sekarang tentu saja kondisinya tidak demikian. Sebagian besar Pulau Jawa kini telah terbebas dari malaria.
Masih dengan cerita soal penyebabnya, ada juga sebuah penyakit hebat (bisa membunuh) yang disebabkan oleh sang nyamuk nakal. Dan ini masih terjadi di Jawa, bahkan juga di Bogor. Tak usah lah main tebak2an, semua juga tahu bahwa Bogor setiap tahunnya selalu punya kasus demam berdarah dengue (DBD), kaki gajah, dan chikungunya. Ketiganya terjadi karena nyamuk. Ketiga biasanya dihubungkan dengan tempat2 pemukiman yang berupa lembah, kurang banyak angin, dan dekat dengan genangan air.
Warga Bogor (rasanya) masih belum banyak yang mempedulikan kaitan antara debit air yang rendah dan tumpukan sampah yang terkendali. Bila kondisi tersebut terus berlangsung, bukan tidak mungkin kota Bogor dan sekitarnya akan kembali dijangkiti oleh wabah penyakit van nyamuk tersebut. Siap2 saja, soalnya saat ini pun (rasanya) jumlah nyamuk sudah makin banyak saat malam hari.
Sudah seminggu belakangan nyamuk rasanya mulai muncul di kediaman saya. Seorang teman yang tinggal di bantaran Ciliwung (Perumahan Kedung Badak Baru) juga menyampaikan hal yang sama. Memang sih biasanya kita suka berseloroh, "nyamuknya sih cuman satu, tapi dia bawa temen2nya sekampung!"
Kita masih belum putus hubungan dengan nyamuk di Bogor ini. Maka sudah sewajarnya jika kita berupaya membersihkan sampah2 yang menyumbat aliran air di sekitar kita. Wajar jika kita menghilangkan genangan air di tumpukan sampah itu. Ayoo ... bersihkan sampah di sungai, ayoo ... kita mulung di Ciliwung!!!
Semoga teman2 kita Itok sudah pulih kesehatannya dari serangan malaria. Semoga para warga Bogor dapat terbebas dari serangan demam berdarah, kaki gajah dan chikungunya.
gambar nyamuk penyebab demam berdarah (Aedes aegypti) di atas saya unduh dari sini.
Rasa-rasanya agak kurang adil memang kalo setiap mulung selalu dihadiri oleh puluhan bahkan mungkin ratusan orang laskar karung. Kesannya koq hebat banget setiap minggu banyak banget pemulung gratisannya. Mungkin sekali-sekali kita perlu juga mencoba model baru dalam mulung.
Lho lho lho ... jangan kecewa dulu. Coba dulu deh rasanya kalau mulung hanya diikuti oleh laskar karung dalam jumlah sangat minimal. Saya bisa kasih contoh saat mulung ke-14 yang lalu di Sukamulya.
Gak kalah seru koq kejadiannya. Bahkan produktivitas mulungnya bisa tinggi banget. Keempat laskar karung sampai bisa kumpulin 30-an karung sampah. Sendiri aja tuh? Kuat banget ...?
Ahh gak sehebat itu juga ... para laskar dapat bantuan tenaga muda (pemuda kampung) yang super semangat dari warga RT 02. Makanya hasilnya bisa 30-an karung.
Berikut adalah cuplikan kejadian beberapa saat setelah pemulungan di Sukamulya. Silakan menikmati ....



Lho lho lho ... jangan kecewa dulu. Coba dulu deh rasanya kalau mulung hanya diikuti oleh laskar karung dalam jumlah sangat minimal. Saya bisa kasih contoh saat mulung ke-14 yang lalu di Sukamulya.
Gak kalah seru koq kejadiannya. Bahkan produktivitas mulungnya bisa tinggi banget. Keempat laskar karung sampai bisa kumpulin 30-an karung sampah. Sendiri aja tuh? Kuat banget ...?
Ahh gak sehebat itu juga ... para laskar dapat bantuan tenaga muda (pemuda kampung) yang super semangat dari warga RT 02. Makanya hasilnya bisa 30-an karung.
Berikut adalah cuplikan kejadian beberapa saat setelah pemulungan di Sukamulya. Silakan menikmati ....
“Ayoo Mang … jangan malu2. Kang Dadaaang … paling cakep, hayu goyang bareng saya. Jangan lupa mari kita goyang untuk Ciliwung tercinta …”Di mana kira2 kita bisa temukan komentar2 seperti itu? Yup … kalo anda pernah nonton panggung dangdut di kampung2, pastinya anda akan temukan komentar2 tersebut. Kenapa panggung2 seperti itu lebih sering kita jumpai di kampung? Jawabnya yaa sederhana saja … karena masyarakat umum di Indonesia itu adalah masyarakat yang tidak terbuka, penuh keakraban, dan ndeso (kampungan). Biasanya kalo kita sudah berada di kota, maka kita semakin jarang dan malu untuk menikmati musik dangdut beserta goyangnya.
Nahh …. berhubung komunitas kita ini selayaknya menjadi komunitas warga biasa-biasa, yang tidak mengenal kelas, maka mungkin wajar jika kita menyelenggarakan panggung dangdut. Tentu saja ini bukan panggung dangdut biasa. Ini adalah panggung dangdut dalam rangka merebut hati warga Bogor yang lain untuk mewujudkan mimpi Ciliwung.
Acaranya …Mari teman2 … kita meriahkan acara tersebut. Karena tidak lain dan tidak bukan, panggung keliling ini dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Jadi Kota Bogor.
Panggung Dangdut Keliling “Tjiliwoeng Bergojang”
Akan dilakukan selama 7 malam berturut2 @ 2 jam per malam
Grup musik: OM GONDRONG (orkes melayu gerobak dorong)
Tempat: sekitar pemukiman di sepanjang bantaran Ciliwung
gambar "bergojang" diunduh dari sini
Tempat tayang ada pada link ini.
Anda suka minum jamu? Atau teman2 pernah coba minum jamu? Sebagai orang Indonesia, semestinya pastilah kita pernah (minimal) mencicipi yang namanya jamu. Sebuah ramuan minuman tradisional khas bangsa ini yang mengandung khasiat obat. Ada banyak macam jamu yang bisa kita temui, mulai dari yang keliling (jamu gendong), yang mangkal (warung jamu), hingga yang modern dan bisa kita temui di super market terkenal. Wujud dan rupanya juga beragam, mulai dari yang berupa serbuk, remah2 (potongan kecil) yang harus direbus/digodok, dan ada juga yang berbentuk cair hingga siap diminum.
Lalu kenapa kita jadi membahas jamu? Ahh mau tau aja sih ... hehehe. Enggak, saat mulung kesembilan kemarin, kebetulan saya jadi teringat pada sebuah ramuan tradisional (jamu) terkenal. Pasti kita pernah dengar "ramuan madura" ... itu jamu made in Pulau Madura sana. Ramuan ini banyak digemari orang. Konon kabarnya ramuan khas ini tidak hanya berguna untuk kesehatan badan, namun sekaligus menjadi penambah gairah seksual. Hmmmm ... jadi ngeres deh pikiran kita hehehehe.
Tapi saya tidak sedang bercerita soal hal2 yang menyangkut XXX lho ... Saya cuman teringat pada ramuan tersebut ketika menyaksikan dua orang kawan kita (sukarelawan pemulung) yang begitu bersemangat di Ciliwung. Kebetulan pula keduanya begitu serius dalam mengambil lilitan besar sampah yang tersangkut pada batu di tengah2 sungai. Sepintas yang terlihat bahwa keduanya melakukan pemulungan sampah tanpa lelah (perkasa sekaliii ...). Keduanya tampak akrab dan saling bantu. Naah keperkasaan dan semangat dari keduanya itu lah yang mengingatkan saya pada "ramuan madura". Kebetulan kedua kawan itu juga punya darah madura. Dalam hati, saya pun berandai2 siapa tahu kedua kawan itu memang sudah menenggak ramuan special madura agar mereka tetap bersemangat dalam upaya menciptakan Ciliwung yang bersih.
Saluuut buat Cak Kikuk dan Cak Imam!! Be'en sudah kasih semangat buat kita semua!
Lalu kenapa kita jadi membahas jamu? Ahh mau tau aja sih ... hehehe. Enggak, saat mulung kesembilan kemarin, kebetulan saya jadi teringat pada sebuah ramuan tradisional (jamu) terkenal. Pasti kita pernah dengar "ramuan madura" ... itu jamu made in Pulau Madura sana. Ramuan ini banyak digemari orang. Konon kabarnya ramuan khas ini tidak hanya berguna untuk kesehatan badan, namun sekaligus menjadi penambah gairah seksual. Hmmmm ... jadi ngeres deh pikiran kita hehehehe.
Tapi saya tidak sedang bercerita soal hal2 yang menyangkut XXX lho ... Saya cuman teringat pada ramuan tersebut ketika menyaksikan dua orang kawan kita (sukarelawan pemulung) yang begitu bersemangat di Ciliwung. Kebetulan pula keduanya begitu serius dalam mengambil lilitan besar sampah yang tersangkut pada batu di tengah2 sungai. Sepintas yang terlihat bahwa keduanya melakukan pemulungan sampah tanpa lelah (perkasa sekaliii ...). Keduanya tampak akrab dan saling bantu. Naah keperkasaan dan semangat dari keduanya itu lah yang mengingatkan saya pada "ramuan madura". Kebetulan kedua kawan itu juga punya darah madura. Dalam hati, saya pun berandai2 siapa tahu kedua kawan itu memang sudah menenggak ramuan special madura agar mereka tetap bersemangat dalam upaya menciptakan Ciliwung yang bersih.Saluuut buat Cak Kikuk dan Cak Imam!! Be'en sudah kasih semangat buat kita semua!
Apakah ‘berdiri di depan kelas’ berarti sudah menyumbang ke dalam penyelamatan bumi dan pengelolaan SDA* di Indonesia?
Berdiri di depan kelas. Almarhum kakekku adalah seorang penilik (semacam kepala sekolah) di sebuah sekolah Belanda. Disiplin dan ketelitiannya mengatur hidup adalah sesuatu yg kukagumi. Rasanya aku juga ditularkan sebuah pengertian bahwa ‘berdiri di depan kelas’, ketika semua mata memandang dan semua perhatian tertuju ke kita, adalah suatu kenikmatan. Kita hadir dan eksis di bumi ini. Pernah terbersit ingin menjadi guru atau dosen. Tapi merasa tidak mampu bertahan dengan segala prosedur dan formalitasnya.
Mimpi masa kecil itu kembali hadir di pagi yg cerah ini. Lebih dari 50 mahasiswa duduk manis di aula pertemuan Fakultas Ekonomi, Universitas Pakuan, Bogor. Sebagian besar memakai jaket almamater berwarna biru. Ada sekelompok mahasiswa yg duduk terpisah, terdiri atas perempuan semua, tidak satu pun memakai jaket biru. (Mereka bukan anggota BEM, kata seorang panitia).
Ibu Sri, pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan membuka acara. Soraya, Ketua Panitia Hari Bumi ini mengantar kita dengan menjelaskan rangkaian acara, dan Meta, Ketua BEM FE UNPAK mengulas kenapa mahasiswa ekonomi harus juga turut serta dalam kegiatan lingkungan hidup. Hebat, yg jadi motor kegiatan hari bumi di tempat ini adalah perempuan semua!
Tiga buah film ‘sampah’ diputar; Krisis Air di Kota Bogor, Teluk Jakarta Under Pressure dan film terbaru seputaran kegiatan Kelompok Peduli Ciliwung. Semua orang diam, terhentak, larut dalam aliran Kali Ciliwung yg menanggung sampah produk manusia dan membawanya jauh menuju ke Laut Jakarta.
Entah kali ke berapa aku menonton film2 ini. Dan aku masih mengaguminya dan menemukan, memunguti sesuatu yg baru dari film2 ini. Rasanya kian hari kian mengerti bagaimana cerita sampah dan bisa empati dengan teman2 penggiat kegiatan Kelompok Peduli Ciliwung. Terbayang wajah teman2 ku, para aktivist lingkungan yg begitu semangat mengajak orang untuk ‘turun ke sungai’ dan ‘berbuat’ sekecil apapun untuk mengangkat sampah dari sana.
…
Kuminta 4 kelompok mahasiswa ini menggambar bersama, apa mimpi anda untuk Sungai Ciliwung dalam lima tahun ke depan? Tidak ada bangunan di pinggir sungai, ada rumah susun yg berdesign ramah lingkungan, pepohonan yg rindang dan taman yg asri di sepanjang pinggiran sungai, ada tempat sampah di setiap sudut kota, mekanisme pengolahan sampah plastik. Dan hebatnya semua tugas itu adalah tanggung-jawab pemerintah. Gubrak!
Kegiatan seperti ini membutuhkan biaya 1,5 juta yg dihabiskan untuk konsumsi, cetak spanduk, cetak plakat tanda terimakasih, cetak sertifikat. Universitas memberikan dukungan penuh.
Jangan bicara efisiensi dalam suatu proses belajar. Kalau melihat bagaimana sekelompok anak muda, duduk2 di bawah pohon rindang, bersenda gurau dengan teman, menonton TV saluran olahraga, chatting dengan laptop keluaran terbaru atau yg berkeringat karena baru saja selesai bermain basket. Betapa banyak potensi orang muda. Semua ini sedang belajar mempersiapkan masa depan. Aku juga pernah ngalami yg tidak jauh seperti ini. Apa yg didapat? Cerita indah membangun memori pertemanan, belajar bagaimana caranya menjadi pengikut, menemukan bahwa semua orang mau (dan memang didorong) menjadi leader. Ah betapa jalan panjang untuk ‘menemukan diri’, capacity building, sampai akhirnya membentuk critical mass yg aware akan isu dan permasalahan seputar pengelolaan sumberdaya air di Indonesia.
Kembali menyadari kalau aku bisa berdiri di depan kelas, memfasilitasi kelompok mahasiswa membedah apa arti 3 film ‘sampah’ itu.
Dan apakah kegiatan hari ini akan ada artinya buat bumi? Aku mengajak para mahasiswa ini untuk nongol di aksi bersih kali yg biasa kita adakan setiap hari Minggu. Kita lihat berapa orang yg akan hadir dalam aksi pemungutan sampah besok minggu. (Atau mereka juga akan dikategorikan sebagai kelompok ‘malu-malu’, seperti sebutan HO untuk sekelompok orang, tidak tahu pasti itu siapa, tapi sepertinya dia jengkel sekali dengan kenyataan itu).
Terimakasih Sandi untuk mengajakku hadir di pertemuan ini. Hebat memang networking mu. Teruskan!
Selamat hari bumi buat teman2 di BEM FE UNPAK!
Rita Mustikasari
Telapak
Jalan Pajajaran No 54, Bogor 16143. Indonesia.
tel: +62 (0)251 8393-245
fax: +62 (0)251 8393-246
Homepage= www.telapak.org
Email= ritamustikasari@telapak.org
Kedaulatan Politik. Kemandirian Ekonomi. Kemartabatan Budaya
*sumberdaya air
"Berdiri di muka umum adalah kenikmatan"
Ibu Sri, pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan membuka acara. Soraya, Ketua Panitia Hari Bumi ini mengantar kita dengan menjelaskan rangkaian acara, dan Meta, Ketua BEM FE UNPAK mengulas kenapa mahasiswa ekonomi harus juga turut serta dalam kegiatan lingkungan hidup. Hebat, yg jadi motor kegiatan hari bumi di tempat ini adalah perempuan semua!
Tiga buah film ‘sampah’ diputar; Krisis Air di Kota Bogor, Teluk Jakarta Under Pressure dan film terbaru seputaran kegiatan Kelompok Peduli Ciliwung. Semua orang diam, terhentak, larut dalam aliran Kali Ciliwung yg menanggung sampah produk manusia dan membawanya jauh menuju ke Laut Jakarta.
Entah kali ke berapa aku menonton film2 ini. Dan aku masih mengaguminya dan menemukan, memunguti sesuatu yg baru dari film2 ini. Rasanya kian hari kian mengerti bagaimana cerita sampah dan bisa empati dengan teman2 penggiat kegiatan Kelompok Peduli Ciliwung. Terbayang wajah teman2 ku, para aktivist lingkungan yg begitu semangat mengajak orang untuk ‘turun ke sungai’ dan ‘berbuat’ sekecil apapun untuk mengangkat sampah dari sana.
…
Kegiatan seperti ini membutuhkan biaya 1,5 juta yg dihabiskan untuk konsumsi, cetak spanduk, cetak plakat tanda terimakasih, cetak sertifikat. Universitas memberikan dukungan penuh.
Jangan bicara efisiensi dalam suatu proses belajar. Kalau melihat bagaimana sekelompok anak muda, duduk2 di bawah pohon rindang, bersenda gurau dengan teman, menonton TV saluran olahraga, chatting dengan laptop keluaran terbaru atau yg berkeringat karena baru saja selesai bermain basket. Betapa banyak potensi orang muda. Semua ini sedang belajar mempersiapkan masa depan. Aku juga pernah ngalami yg tidak jauh seperti ini. Apa yg didapat? Cerita indah membangun memori pertemanan, belajar bagaimana caranya menjadi pengikut, menemukan bahwa semua orang mau (dan memang didorong) menjadi leader. Ah betapa jalan panjang untuk ‘menemukan diri’, capacity building, sampai akhirnya membentuk critical mass yg aware akan isu dan permasalahan seputar pengelolaan sumberdaya air di Indonesia.
Kembali menyadari kalau aku bisa berdiri di depan kelas, memfasilitasi kelompok mahasiswa membedah apa arti 3 film ‘sampah’ itu.
Terimakasih Sandi untuk mengajakku hadir di pertemuan ini. Hebat memang networking mu. Teruskan!
Selamat hari bumi buat teman2 di BEM FE UNPAK!
Rita Mustikasari
Telapak
Jalan Pajajaran No 54, Bogor 16143. Indonesia.
tel: +62 (0)251 8393-245
fax: +62 (0)251 8393-246
Homepage= www.telapak.org
Email= ritamustikasari@telapak.org
Kedaulatan Politik. Kemandirian Ekonomi. Kemartabatan Budaya
*sumberdaya air

Hujan gerimis tidak menjadikan aku dengan om Dwi urung untuk melangkahkan kaki menyelusuri jembatan dan tebing di wilayah Warung Jambu Dua dan pasar Induk untuk melakukan survey lokasi “mulung” minggu depan.
Sesekali kami menjepretkan kamera untuk mengambil poto2 tumpukan sampah di bawah jembatan, dan di tebing sungai. Kondisi sungai Tjiliwoeng semakin kehilir semakin memprihatinkan, dan malah kepedulian urang bogor atawa pembisnis, pengepul, tukang ojek, tukang buah, apalagi tukang sampah emang ngga ada.Ini terlihat dari banyaknya sampah-sampah yang bergelimpangan dengan bebasnya berserakan di sepanjang sungai.
Di sebuah warung kue pancong dengan terpal warna biru lumut di ujung jembatan masuk pasar Induk, Om Dwi dengan semangatnya berorasi menjelaskan kepada tukang ojek dan penjual kue pencong, bahwa ini ada pengumuman rahasia, “ tolong jangan bilang siap-siapa ya” tegas Om Dwi. Bahwa besok minggu, “kami akan bersih-bersih kali tjiliwoeng di sekitar sini, klo ada teman-teman ataupun kenalan sampeyan, tolong ajak ya...???”, “pengumuman ini rahasia lho?”, tapi klo bisa beritahu teman2 lainnya, ujar om Dwi dengan penuh semangat.
Minggu pagi, 5 April 2009, aku bersama teman-teman yang tergabung dalam tim observasi Ciliwung mengunjungi Pulo Geulis. Hari ini kami akan menyurvei sejumlah titik yang akan dijadikan lokasi pengamatan kualitas air dan menentukan kebutuhan observasi lainnya. Selagi teman-teman asyik survei menyusur sungai mengelilingi pulau, aku memisahkan diri untuk sekedar ngobrol dengan ketua RT setempat, sekaligus memberitahukan secara lisan mengenai rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh tim observasi.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi, anak-anak berkejaran, bapak-bapak duduk santai menikmati libur. Diantara lorong jalan yang dihiasi jemuran pakaian, aku seperti ingin mencari sesuatu yang penting, sesuatu yang perlu digali dari sebuah pulau padat permukiman yang menyisakan sejarah ini.
Tidak lama, akhirnya aku menemukan rumah Pak Tata Sumiarta, ketua RT 5 Pulo Geulis, sebuah pulau yang secara admisnistrasi berada di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan, Bogor Tengah, Kota Bogor. Pulo Geulis terdiri dari lima RT dalam satu RW, entah RW berapa aku lupa menanyakannya,.
Setelah mengungkapkan maksud kedatangan, Pak Tata mulai sedikit bercerita mengenai Ciliwung. Meskipun bukan pelaku sejarah dan tetua, tetapi rasanya apa yang diceritakan dapat menjadi awal yang baik untuk menggali sejarah yang lebih mendalam nantinya.
Dulunya hutan
Beragam cerita masa lalu Pulo Geulis sedikit tersingkap, meski tidak detail, aku merasa ada harapan bahwa Pulo Geulis memang masih memiliki cerita unik dan seru. Cerita yang menjadi bagian dari sejarah dan budaya masa lalu.
Pulo Geulis merupakan pulau yang unik di Kota Bogor, lokasinya dekat dengan Pasar Bogor. Daratan ini berbentuk lonjong seperti sebuah delta yang dikelilingi aliran Ciliwung. Secara persis aku tidak tahu luasannya, mungkin sekitar 5 ha.
Dikisahkan oleh Pak Tata, saat penjajahan Belanda, nenek moyang penduduk Pulo Geulis bermukim di sebuah kawasan yang saat ini digunakan sebagai Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Menurut Pak Tata, warga yang bermukim di sana dipindahkan, mungkin tepatnya dipaksa untuk pindah, dan menempati sebuah delta yang rimbun penuh pepohonan seperti hutan. Inilah kondisi awal Pulo Geulis, saat pertama kali dibuka untuk bermukim warga setempat dari etnis Sunda.
Pulau ini tidak dikelilingi lautan, tetapi aliran sungai. Di dalamnya tumbuh pepohonan besar laksana rimba perawan, dengan gemericik air bening nan segar di sela-sela batu. Dahulu, aliran sungai yang mengelilingi Pulo Geulis tidak selebar saat ini yang telah mengalami erosi badan sungai. Dan tentu saja airnya masih jernih dan sehat untuk diminum langsung. Karena keindahannya pulau tersebut dinamakan Pulo Geulis yang dalam bahasa Indonesia artinya Pulau Cantik.
Menurut kisah lainnya, bahwa pada jaman penjajahan Belanda, terjadi sebuah pertempuran di sebuah wilayah yang disebut Panaragan. Mayat-mayat yang bergelimpangan kemudian dibuang ke pulau tersebut. Tidak hanya itu, pulau tersebut pada suatu waktu kedatangan perempuan cantik yang tidak diketahui identitasnya dan dari daerah mana asalnya. Apakah mereka dari luar Sunda ? apakah mereka dipekerjakan oleh Belanda? Entahlah, Pak Tata pun mengaku tidak mengetahuinya.
Bahwa Pulo Geulis terkait erat dengan sejarah dan budaya masa lalu, itu pernyataan yang tidak terbantahkan. Bukti sejarah yang dapat ditemui di pulau itu adalah sebuah bangunan seperti vihara yang dikeramatkan. Di dalam bangunan tersebut terdapat makam orang pribumi dan Tiong Hoa. Konon, vihara ini adalah salah satu bangunan peribadatan tertua se-Indonesia. Beberapa makam yang ada di lokasi tersebut misalnya Mbah Mangunjaya, Mbah Gebug, Mbah Imam, dan Mbah Buyut Sampurna. Bahkan konon ceritanya lokasi tersebut juga pernah menjadi petilasan Prabu Siliwangi.
Tidak hanya vihara, sekitar tiga bulan lalu, di wilayah RT 5, saat seorang warga sedang menggali tanah, ditemukan amunisi peluru yang kemungkinan dikubur pada jaman Belanda. Mengenai penemuan peluru ini sudah di laporkan ke pihak berwajib.
Hubungan sosial antara pribumi dari etnis Sunda dan Tiong Hoa berjalan dengan rukun, bahkan sampai saat ini. Pak Tata menjelaskan bahwa, saat peringatan hari besar kegamaan, masing-masing komunitas memberikan ucapan selamat, dengan berjalan menyusuri lorong-lorong sambil bersalaman. Sebuah budaya yang banyak ditinggalkan di tempat lain. Meskipun belum dipastikan berapa komposisinya , namun pak Tata memperkirakan sekitar sepuluh persen warga Pulo Geulis Tiong Hoa. Namun akhir-akhir ni ada juga pendatang yang ngontrak atau tinggal sementara di Pulo Geulis, misalnya dari Padang.
Hmmm..aku semakin penasaran menggali ceita yang lebih detail.
Semakin padat
Permukiman sudah sangat padat. Tampaknya sudah tidak mungkin menemukan secuil tanah kosong untuk membangun rumah baru, apalagi untuk bermain bola voli. Warga mesti membangun ke atas untuk urusan menambah rumah. Setiap waktu, masyarakat terus bertambah, ketersediaan ruang semakin terbatas. Sebagai gambaran di RT 5 ada sekitar 145 KK, kalau rata-rata satu keluarga ada 4 orang maka 580 jiwa. Memang belum dipastikan jumlah total warga di Pulo Geulis, tetapi jika kita kalikan dengan 5 RT, maka perkiraan jumlah jiwa di pulau tersebut sekitar 2900 jiwa.
Selain permukiman yang padat, warga yang kebanyakan masih menggunakan air Ciliwung untuk mandi dan mencucui dihantui berbagai permasalahan kesehatan lingkungan. Sebut saja kulitas air yang semakian menurun akibat pencemaran limbah rumah tangga dan sampah dari hulu. Apa yang bisa kita lakukan ?
Tidak lama, akhirnya aku menemukan rumah Pak Tata Sumiarta, ketua RT 5 Pulo Geulis, sebuah pulau yang secara admisnistrasi berada di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan, Bogor Tengah, Kota Bogor. Pulo Geulis terdiri dari lima RT dalam satu RW, entah RW berapa aku lupa menanyakannya,.
Setelah mengungkapkan maksud kedatangan, Pak Tata mulai sedikit bercerita mengenai Ciliwung. Meskipun bukan pelaku sejarah dan tetua, tetapi rasanya apa yang diceritakan dapat menjadi awal yang baik untuk menggali sejarah yang lebih mendalam nantinya.
Dulunya hutan
Beragam cerita masa lalu Pulo Geulis sedikit tersingkap, meski tidak detail, aku merasa ada harapan bahwa Pulo Geulis memang masih memiliki cerita unik dan seru. Cerita yang menjadi bagian dari sejarah dan budaya masa lalu.
Pulo Geulis merupakan pulau yang unik di Kota Bogor, lokasinya dekat dengan Pasar Bogor. Daratan ini berbentuk lonjong seperti sebuah delta yang dikelilingi aliran Ciliwung. Secara persis aku tidak tahu luasannya, mungkin sekitar 5 ha.
Dikisahkan oleh Pak Tata, saat penjajahan Belanda, nenek moyang penduduk Pulo Geulis bermukim di sebuah kawasan yang saat ini digunakan sebagai Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Menurut Pak Tata, warga yang bermukim di sana dipindahkan, mungkin tepatnya dipaksa untuk pindah, dan menempati sebuah delta yang rimbun penuh pepohonan seperti hutan. Inilah kondisi awal Pulo Geulis, saat pertama kali dibuka untuk bermukim warga setempat dari etnis Sunda.
Pulau ini tidak dikelilingi lautan, tetapi aliran sungai. Di dalamnya tumbuh pepohonan besar laksana rimba perawan, dengan gemericik air bening nan segar di sela-sela batu. Dahulu, aliran sungai yang mengelilingi Pulo Geulis tidak selebar saat ini yang telah mengalami erosi badan sungai. Dan tentu saja airnya masih jernih dan sehat untuk diminum langsung. Karena keindahannya pulau tersebut dinamakan Pulo Geulis yang dalam bahasa Indonesia artinya Pulau Cantik.
Menurut kisah lainnya, bahwa pada jaman penjajahan Belanda, terjadi sebuah pertempuran di sebuah wilayah yang disebut Panaragan. Mayat-mayat yang bergelimpangan kemudian dibuang ke pulau tersebut. Tidak hanya itu, pulau tersebut pada suatu waktu kedatangan perempuan cantik yang tidak diketahui identitasnya dan dari daerah mana asalnya. Apakah mereka dari luar Sunda ? apakah mereka dipekerjakan oleh Belanda? Entahlah, Pak Tata pun mengaku tidak mengetahuinya.
Bahwa Pulo Geulis terkait erat dengan sejarah dan budaya masa lalu, itu pernyataan yang tidak terbantahkan. Bukti sejarah yang dapat ditemui di pulau itu adalah sebuah bangunan seperti vihara yang dikeramatkan. Di dalam bangunan tersebut terdapat makam orang pribumi dan Tiong Hoa. Konon, vihara ini adalah salah satu bangunan peribadatan tertua se-Indonesia. Beberapa makam yang ada di lokasi tersebut misalnya Mbah Mangunjaya, Mbah Gebug, Mbah Imam, dan Mbah Buyut Sampurna. Bahkan konon ceritanya lokasi tersebut juga pernah menjadi petilasan Prabu Siliwangi.
Tidak hanya vihara, sekitar tiga bulan lalu, di wilayah RT 5, saat seorang warga sedang menggali tanah, ditemukan amunisi peluru yang kemungkinan dikubur pada jaman Belanda. Mengenai penemuan peluru ini sudah di laporkan ke pihak berwajib.
Hubungan sosial antara pribumi dari etnis Sunda dan Tiong Hoa berjalan dengan rukun, bahkan sampai saat ini. Pak Tata menjelaskan bahwa, saat peringatan hari besar kegamaan, masing-masing komunitas memberikan ucapan selamat, dengan berjalan menyusuri lorong-lorong sambil bersalaman. Sebuah budaya yang banyak ditinggalkan di tempat lain. Meskipun belum dipastikan berapa komposisinya , namun pak Tata memperkirakan sekitar sepuluh persen warga Pulo Geulis Tiong Hoa. Namun akhir-akhir ni ada juga pendatang yang ngontrak atau tinggal sementara di Pulo Geulis, misalnya dari Padang.
Hmmm..aku semakin penasaran menggali ceita yang lebih detail.
Semakin padat
Permukiman sudah sangat padat. Tampaknya sudah tidak mungkin menemukan secuil tanah kosong untuk membangun rumah baru, apalagi untuk bermain bola voli. Warga mesti membangun ke atas untuk urusan menambah rumah. Setiap waktu, masyarakat terus bertambah, ketersediaan ruang semakin terbatas. Sebagai gambaran di RT 5 ada sekitar 145 KK, kalau rata-rata satu keluarga ada 4 orang maka 580 jiwa. Memang belum dipastikan jumlah total warga di Pulo Geulis, tetapi jika kita kalikan dengan 5 RT, maka perkiraan jumlah jiwa di pulau tersebut sekitar 2900 jiwa.
Selain permukiman yang padat, warga yang kebanyakan masih menggunakan air Ciliwung untuk mandi dan mencucui dihantui berbagai permasalahan kesehatan lingkungan. Sebut saja kulitas air yang semakian menurun akibat pencemaran limbah rumah tangga dan sampah dari hulu. Apa yang bisa kita lakukan ?
Parasmu kian redup menantang jaman(ditulis oleh M. Muslich)
Kerut wajahmu kian nyata digerus arus Ciliwung
Tubuhmu semakin renta menopang beban
Pulau Cantik nasibmu kini, ....
Kepada semua teman2 volunteer Ciliwung Ruksak, Hirup Balangsak,
Kepada seluruh warga Bogor di mana pun Anda berada,
Kepada semua orang yang merasa perlu ikut serta membantu upaya membersihkan Ciliwung,
dan Kepada siapa saja yang membaca pesan ini,
Komunitas Peduli Ciliwung kembali menggelar acara "mulung sampah Ciliwung" setiap hari Minggu. Berikut penjelasannya di samping ini ...
Silakan datang, silakan lihat, dan silakan ikutan mulung!!
Jangan ragu2, jangan bimbang, tapi boleh saja malu ... karena malu itu adalah sebagian dari iman ... hehehe. Bila Anda malu, maka tak usah khawatir, Anda pasti akan turut serta ...
Kemarin, kami (di sekretariat) mendapat sebuah surat pendek dari seorang kawan. Kawan tersebut adalah seorang Ketua RT di Kelurahan Tegal Gundil, Bogor. Kebetulan beliau sedang berada di lokasi pemulungan sampah Ciliwung hari Minggu lalu. Berikut isi suratnya ....
Setelah kegiatan pertama nggak nengok aksi Ciliwung, ada kesempatan pada aksi ke dua mampir ke Ciliwung.Pak RT, jadi maksudnya aksi ini memalukan, atau membuat malu??? heheheheee ....
Niat awal memang nggak bantu-bantu bersihin kali Ciliwung, wong kali Ciparigi depan rumahku saja masih kotor koq. Minggu depan aku mau nyontek aksi Ciliwung ah untuk bersih-bersih Ciparigi bareng warga RT-ku.
Karena nganggur, duduklah aku di tukang lotek dan ngobrol ngalor-ngidul dengan penduduk Lebak Kantin ngomongin orang-orang yang 'nggak punya kerjaan'. Ternyata aksi Ciliwung memalukan ... membuat malu mereka sebagai penduduk setempat, terjadi saling tunjuk diantara mereka tentang perilaku mereka yang selalu buang sampah ke Ciliwung.
Pulangnya ibu tukang lotek membungkus sampahnya dan membungkusnya dengan kertas koran. Mari kita perbesar aksi yang memalukan ini.



