Tjiliwoeng Dreams
KompetiSi CiliwunG BersiH Posted by Tjiliwoeng Dreams On Juli - 25 - 2009

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia yang ke-64, sejumlah warga Bogor yang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) akan menyelenggarakan kegiatan pembersihan sampah Ciliwung di Kota Bogor. Kegiatan ini berjudul Kompetisi Pemulungan Sampah Ciliwung Antar Kelurahan dengan tema “Ciliwung Bersih, Warga Merdeka”. ...

Ciliwung Bersih Warga Merdeka
Tjiliwoeng ber-Gojang Posted by Tjiliwoeng Dreams On Juni - 2 - 2009

“Ayoo Mang … jangan malu2. Kang Dadaaang … paling cakep, hayu goyang bareng saya. Jangan lupa mari kita goyang untuk Ciliwung tercinta …”

Orkes Melayu Gerobak Dorong
Impian Anda dan Kami Posted by Tjiliwoeng Dreams On Maret - 31 - 2009

'Sungai yang indah, berair bening dan sejuk bukanlah hal tidak bisa didapatkan'. Apalagi jika dihias pepohonan rindang dan pokok bambu di tepiannya. Bukankah ini mimpi yang kita dambakan ? ...

Mari turut dalam Aksi Ciliwung Bersih
Selamat Hari Air Sedunia Posted by Tjiliwoeng Dreams On Maret - 22 - 2009

Sungguh indah bisa meluangkan waktu, walau hanya beberapa saat, mengotori diri kita dari pagi hingga siang. Hanya ini lah yang dapat kami lakukan, melihat yang terjadi dan mencoba turut menganyunkan lengan, membuka jemari kita, dan meraih apa yang telah kita buang tuk tempatkan kembali ke tempatnya dengan baik.

Mari turut dalam Aksi Ciliwung Bersih
AKSI Pertama - Bersih Ciliwung Posted by Tjiliwoeng Dreams On Maret - 15 - 2009

Pada hari minggu 15 Maret 2009, kita telah turun membersihkan Sungai Ciliwung di beberapa titik. Acara dimulai dari jam 06:30 s/d 13:00 WIB, di sekitar lapangan sempur. Aksi bersih dan mulung sampah Ciliwung ini di dihadiri oleh lebih kurang 80 orang, yang terdiri atas bebrapa kelompok, tersebutlah Komunitas Kampoeng Bogor, Telapak, Gekko, Lawalata, Forest Watch Indonesia dan teman-teman dari TN Gunung Gede Pangrango dan kawan dari Kebun Raya Bogor. Sukes untuk kita semua, ....

Ciliwung Rusak - Hirup Balangsak
TJILIWOENG DREAMS Posted by Tjiliwoeng Dreams On Feb - 22 - 2009

wadah bagi upaya Mewujudkan Mimpi-Mimpi Warga tentang Sungai Ciliwung. Mimpi akan sungai yang indah, berair bening dan sejuk. Dihias rindang pepohonan dan pokok bambu di tepiannya. Ditingkah aktivitas warga yang memancing ikan, mandi dan mencuci. Tanpa tumpukan sampah kotor dan limpahan air coklat penyebab banjir di hilirnya

About Tjiliwoeng Dreams
Dari Katulampa hingga Pasar Bogor Posted by Tjiliwoeng Dreams On March - 3 - 2009

Beberapa waktu lalu saya iseng2 mencoba menyusuri Ciliwung dari Katulampa sampai Pasar Bogor. Sebelumnya saya pernah bermimpi tentang Tjiliwoeng Tempo Doeloe yang asri, indah, airnya bening, banyak anak kecil yang mandi dan bermain di sungai, serta ibu2 yang asik mencuci pakaian di tepiannya. Penyusuran yang saya lakukan kali ini bukanlah mimpi, namun kenyataan sesungguhnya yang saya temukan. Tujuan saya kala itu hanya satu, ingin tahu darimana asal tumpukan sampah di Ciliwung (Kota Bogor) dan apa penyebab sulitnya memancing ikan di sana.

Debit air dari Bendungan Katulampa
Susur Ciliwung ... Asik Posted by Tjiliwoeng Dreams On Jan - 28 - 2009

Untuk kesekian kalinya saya bersama segerombolan kecil teman2 (tanpa nama) kembali turun kali Ciliwung. Masih dengan semangat membara menuju Ciliwung baik dan bersih, walau harus dilakukan sendiri. Kami memotret lokasi2 penumpukan sampahdi sepanjang Ciliwung dan sekaligus mencoba memetakannya secara sederhana. Tidak muluk2, hanya di seputar kota Bogor. Dari bendungan Katulampa, hingga ke perbatasan dengan Cilebut.

Ngapain tuh mbuntutin orang ...

Kembali ke Padang Beunghar

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 9:51 AM 0 comments

Adalah sebuah tempat di seputaran Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Bogor. Entah apa makna sebenarnya dari nama tempat itu. Kata seorang kawan (Sunda), "beunghar" itu artinya kaya. Namun sayangnya ia tidak tahu soal arti kata padang. Ia curiga ini bukan istilah dalam bahasa Sunda. Yaa sudah lah ... mungkin saat ini kita tak perlu mencari artinya. Tapi (kadang) benak saya ingin mengartikannya secara bebas ... mungkin itu artinya tempat luas yang pernah dihuni orang kaya, mungkin juga dulu di tempat itu pernah tinggal seorang berdarah Minang yang kaya raya.

Baiklah ... saya tak akan meneruskan pembahasan soal arti kata pada nama tempat itu. Lalu kenapa dengan tempat itu? Ada apa di sana? Mengapa saya mencoba membahas kata "padang beunghar"?

Jawaban saya singkat saja ...
Soalnya hari Minggu ini, 11 Oktober 2009, para laskar karung KPC dijadwalkan untuk melakukan kegiatan rutin mulungnya di Padang Beunghar, kawasan Pulo Geulis. Ini adalah tempat mulung yang sama dengan yang dilakukan hari minggu lalu. Lokasi tepatnya berada di ujung hulu, sisi Barat Pulo Geulis. Untuk menuju ke sana dapat dilakukan dari Jalan Roda (masuk gang 2), langsung menuju ke RW 9 .... atau ... bisa juga dari Jalan Bangka-Riau, melalui jembatan Pemuda menuju Pulo Geulis, menyusur gang2 kecil di pulau padat tersebut, melintasi jembatan menuju ke jalan roda di RW 9.

Mari ... kita ramaikan acara rutin mulung kita semua, demi terwujudnya Ciliwung yang bersih dan indah, plus (tentu saja) Kota Bogor tercinta yang nyaman. Ini penting, mengingat semestinya membersihkan Ciliwung di Bogor itu menjadi tanggung jawab setiap kepala manusia yang berada di Kota Bogor. Mari ....


, , , Bookmark and Share | | edit post

Turis Jepang mencari Laskar Karung

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 5:14 PM 2 comments
Keringat segede2 jagung mengalir deras dari pelipis dan lipatan perut, sesaat setelah sejenak mampu menenangkan diri di Bis Miniarta menuju Depok yg akan membawaku balik ke rumah. Kembali ikutan mulung setelah 2 bulan absen karena malaria tropikana. Emang niat dari rumah ndak akan lama dan mungkin tidak sampe ancrub. Maklum kalo abis sakit jadi ngeri2 kalo mau capek2.

Bener juga. Naik ojeg dari Tugu Kujang. Dia menurunkanku di Jembatan Pemuda. Pulo Geulis mah ieu Bu, sarannya santun. Lamun kantor Kelurahan na mah palih ditu, sambil menunjuk ke seberang jalan. Ada tukang es kelapa muda dan beberapa motor parkir di depannya.

Dengan gagah berani, seperti biasa, aku pun berjalan menuruni tangga, menuju jembatan yg mengantarkanku ke sisi lain dari Sungai Ciliwung, ke rumah2 petak berdempetan uyel2an, ala sempur bgitu deh. Tertegun sejenak melihat kesibukan sungai. Orang mandi atau buang air sambil merendam hampir setengah bagian bawah badannya – yg jadi penasaran kayak apa dinginnya yah, move on.

Tidak kulihat ada baliho besar KPC. Ndak mungkin KPC mulung tanpa masang baliho gede. Itu udah SOP nya begitu. Kusempatkan menikmati pemandangan sungai dari atas jembatan. Tentu saja dengan resiko diliatin orang. Karena memang tuh jembatan alat transportasi penting buat penduduk kampung ini. Jadi orang lalu lalang. Dari mulai ibu2 dasteran yg nyuapin anak, atau mbak cantik SPG counter cosmetic di mall sekitaran.


Kusapa seorang bapak. Ningali anu nuju mulung plastik di ciliwung? Nggak, katanya ngeloyor tidak peduli. Kuputuskan berjalan kembali ke jalan aspal, jalan riau yah, menyusuri sungai ke arah hulu. Ada satu keluarga yg sedang mencuci motor. Kuputuskan menyapa sang ibu yg sedang menggendong anaknya. Agak lebih ramah menjawab. Tapi jawaban yg sama. Mereka tidak tahu. Lebih tepatnya tidak peduli. Sang suami yg belepotan sabun sedikit lebih ramah. Mungkin kasian liat perempuan ‘turis jepang’ (wah seneng tuh si Ejhonski) seperti orang ilang.

Terus berjalan sampai lapangan. Ada kerian ‘pasar malam’ di sana. Kincir angin dan komedi putar. Sayang masih tutup. Kalo ndak, bisa naek dulu, ‘mary goes around’.

Kuamati sekitar. Memang nih sungai bercabang. Menduga-duga apakah mulung dilakukan di sisi sebelah sana. Niatan untuk bertanya ke seorang bapak, urung dilakukan. Dari percakapan telponnya terdengar lebih tersesat dari aku. Tiga orang kucoba telp. Semuanya tidak dijawab. Tentunya mereka sudah ancrub. Een sedang ngelayap di Salatiga. Ternyata! Sekalian ajah ngobrol ama dia yg setelah balik tour de java ndak sempat lapor. Hehe.

Kuyakinkan diri bahwa titik mulung Pulo Geulis memang di seberang jembatan. Selagi jalan, tukang ojek yg tadi menyapa ramah. Udah ketemu orang mulungnya Bu? Ada seorang anak laki2 yg kemudian kutanyai. Dia berusaha membantu dengan menceritakan ciri2 yg kayaknya lebih mirip tukang kredit. Rambut na gondrong tah sebahu, mawa ransel oge kitu, sambil menunjuk ke ransel yg kupakai. Tuh kaditu kahandap. Dia pun menunjukkan jalan sambil kuikuti dari belakang, menuruni sejumlah anak tangga dibuat dari batu bata, curam menuju ke sungai. Kuhentikan langkah ku karena di depanku ada 3 orang laki2 yg sedang asik mandi. Sebuah mata air kecil mengalir di pancuran bambu.

Keluarga pencuci motor. Sang bapak menyapa ku ramah. Mungkin lebih karena kasihan. Si ibu lebih membantu kali ini. Dia menyarankanku untuk terus saja menyeberang jembatan dan pergi ke sisi sungai yg sebelah sana. Padang Beunghar katanya.

Setelah berjalan menyusuri gang, menajamkan insting saat memutuskan mau belok kiri atau kanan, akhirnya kutemukan jembatan kedua. Kulihat baliho besar KPC. Senangnya. Tapi perjalanan nyasar ku pagi ini yg sekaligus menjadi kampanye terselubung, belum berakhir. Karena beberapa pertanyaan ke orang yg lewat membuatku merasa sakit. Betapa nge-gampanginnya orang2 kita ini. Tah tinggal muter aja. Dan kulihat di depan mata dua buah gang kecil diantara rumah2 berdempet2. Gang ini tidak bisa dengan mudah dikenali. Percayalah aku masih harus berjalan menyusuri gang, berbelok, nemu jalan aspal, nanya ke ibu2, masuk ke gang yg cuman muat buat jalan satu orang dan satu solokan air got. Sebelum bisa melihat sebuah jalan aspal, dead end.

Kita harus mengubah mindset kita dan menyesuaikan diri dengan mereka. Orang2 ini tidak pernah pergi jauh dari cubicle nya. Jadi tidak pernah bisa membayangkan bagaimana sebaiknya memberi petunjuk untuk gang kecil seperti labirin ini. Dan betapa belibetnya gang-gang di daerah ini.Pagi ini aku hanya berkesempatan mulung sebentar saja. Tidak sampe penuh karung sampah ku. Selain karena udah punya janji lain. Juga kombinasi dengan rasa jijik yg memuncak full sampai ke ubun2. Suguhan pertama saat kutemukan titik mulung. kombinasi sampah plastik, tempe busuk, ampas kelapa, pampers yg menggembung karena tentu ada isinya, lalat hijau dan ‘pisang goreng’ mengambang bertebaran. ada 50 anak manusia ancrub di tangga pulo geulis. anak2 gembira berenang di pagi yg indah, ibu2 mencuci baju, laki2 mandi, beberapa orang plus membawa ayam jagonya sambil diusap2, abg yg sedang curhat diantara batu2 gede yg memang terasa hangat kena matahari pagi. kalo sungai begitu pentingnya buat manusia, kenapa masih buang sampah ke sini?

Begitulah yg harus kita lakukan. Ubah mind set kita. Pake cara berpikir kita untuk memahami mereka. Emang udah dari sononya kalo sungai memang tempat membuang. Anehnya projek2 besar pengelolaan air seperti enggan menyentuh sisi itu. Kegiatan2 yg jauh dari mengubah perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Coba tolong bantu sebutkan jika memang ada!

Pagi ini lebih tepat aku melakukan kampanye terselubung. Kubuat orang2 itu merasa heran, ada turis jepang masuk kampung. Kuajak mereka berempati betapa susahnya menemukan titik mulung Pulo Geulis. Kubiarkan mereka mendengarkan ocehanku tentang besarnya baliho KPC dan semua simbol dan ajakan agar turut serta menjaga sungai. Alih2 berterimakasih, mereka malah mengeluarkan pandangan aneh penuh tanda tanya kepada sang turis jepang. Biarlah. Kita coba lagi minggu depan dengan metoda lain yg lebih kreatif. Semoga hari ini aku berbuat baik untuk kelestarian Sungai Ciliwung. Bagaimana dengan anda, apa yg anda lakukan hari ini untuk sungai mu?

cerita jujur ini dibuat oleh Rita Mustikasari alias Itok sang "turis Jepang"
, , , , Bookmark and Share | | edit post

Tertipu lagi Mener..!!!

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 1:26 AM 4 comments
Tidak terasa sudah seumur jagung komunitas kita ini usianya dan banyak aja yang tertarik en tertipu dengan kerjaan kelompok ini mungutin sampah di ciliwung. Malah urang-urang bule juga kena tipu....

Sampai-sampai urang-urang bule ini mau ngadain acara yang sama di negerinya sono, bersih-bersih sungai juga, supaya dianggap gaul kaya urang di indonesia katanya. Malah seorang bule ini, ngobrol ama diriku, spik-spik ingris kriting. “Apakah gaya kaya gene, maksudnya “mulung” bisa di bawa ke budaya orang bule sono”?. “Its oke”, aku bilang, kenapa tidak? ...

Aku bilang aja, sebab mulung alias ngumpulin sampah udah menjadi ladang bisnis di indonesia ini, dan orang-orangnya kreatif serta saling ketergantungan. Ada yang buang sampah sembarangan, dan ada yang ngambil dan menjualnya, jadi pemerintah indonesia tidak monopoli terhadap kerjaan, karena tidak semua bidang usaha yang di kuasai oleh pemerintah, tetapi masyarakat kecil juga bisa menguasainya, contohnya “mulung”.

Dan setelah kami berdua ngobrol2 di jembatan penyebrangan pulo geulis, tidak sengaja kami melihat seorang ibu yang membuang sampah ke sungai. Si bule langsung tanya “ kok masih ada yang buang sampah sembarangan”? ujarnya. “Itu bukan membuang sembarangan, tetapi dia memberikan pekerjaan pada temannya di bagian hilir pulo ini, karena ada yang udah nampung di bagian hilir dan cara paling efesien untuk mengirimkan barang adalah lewat sungai ciliwung, apalag arusnya deras,..lebih cepat dan tanpa biaya”, ujarku bangga. Teman bule ku ini terkesima...”hebat” katanya.

Dalam pikiranku satu lagi urang bule ke tipu oleh komunitas ciliwung ini, hebat euy..semakin banyak orang tertipu dengan aksi kita semakin banyak yang prihatin terhadap mbah Tjiliwoeng.
, Bookmark and Share | | edit post

Pulo Geulis Kebanjiraaan,,,

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 8:21 PM 8 comments
Kebanjiraaan ??? Setelah sekian lamanya akhir hari itu datang juga,,, sungguh tak diduga sebelumnya. Kali ini banjir yang di alami Mbah Tjiliwoeng bukan seperti yang sering terjadi di Jakarta. Namun, Minggu 19/04 2009 Pulo Geulis "dibanjiri" Tim Riset. Senang sekali rasanya, jadi semangat nyemplung di air.

Hari ini Tim Riset bertambah anggotanya, dari minggu kemarin. Berkat Wildan (Ketua HIMASPER) yang berhasil mengajak anggotanya untuk melakukan pengamatan Kualitas Air di Pulo Geulis. 10 orang dari Tim Riset (Aan, Rubi, Romi, Firin, Upil LAWALATA, Wildan dan 5 anggota HIMASPER) seperti biasa kumpul di depan BNI IPB Darmaga. Setelah dihitung-hitung, Tim memutuskan untuk menyewa Angkot 03.

"Dah siap nas? kita mau berangkat neh" isi sms dari Rubi. "Ok, Tapi aku nunggu di Lampu Merah Bubulak aja ya?" balasku.
Sekian lama menunggu akhirnya HPku berbunyi "Nas lo dimana? kita dah di Lampu Merah Bubulak neh". "Dibawah tulisan CIFOR Bos" Jawabku. "Wah kayaknya, lo salah deh Nas, itu Lampu Merah Laladon, kita tunggu di Lampu Merah Bubulak ya? Lo cepetan naik angkot 32" Lanjut Aan. "Ok Bos, Segera. Maaf salah tempat:) hehehehe" Malu aku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung naik angkot 32. Tak lama angkot berjalan, terlihat Aan, rubi dan Firin yang berdiri di samping Angkot 03, "kiri pak" kataku pada supir seraya bergerak turun.
"Oalah dasar orang Kubu, ngrepotin aja. Katanya nunggu di Bubulak, kok malah nunggu di Laladon" Ejek Firin dibarengi tawa dari teman-teman yang lain. "Sory bos, aku kira Lampu merah yang sana itu Bubulak, :) hehehe" Elakku. Kamipun langsung naik angkot 03 menuju sungai. Selama perjalanan kami bercanda ria. Hari ini aku yang jadi bahan ejekan si Firin. Ngak papalah Rin, Yang penting semuanya bisa ketawa di sempit dan panasnya Angkot 03.

Sampai di tempat tujuan, Tim langsung menuju lokasi pengamatan. Tak disangka, di sungai telah menunggu Keluarga Muslich dan Mas Bowie LATIN yang duduk2 di bebatuan. Menurut Suami Widi, Guru Besar Bowie menunggu sejak jam 7 pagi. Ampuuun "Suhu" bukannya kurang ajar, tapi kami memang telat :) wkwkwkwk.

Sekitar pukul 8 an, Koordinator Riset, Muslich, langsung merapatkan pasukannya untuk memberikan arahan. Dari briefing diputuskan untuk membagi Tim menjadi 3 yaitu; Tim 1 di pimpin Aan melakukan pengamatan kualitas air di Titik 1 dan 2 (kiri sungai), Tim 2 dipimpin Rubi melakukan pengamatan kualitas air di Titik 3 dan 4 (kanan sungai), dan Tim 3 dipimpin Firin melakukan wawancara sosial dan budaya masyarakat di Kampung Pulo Geulis.

4 jam berlalu tak terasa pengamatan Tim 1 selesai. Kamipun menuju "Jembatan Pemuda" berharap Tim yang lain sudah berada di sana. Sesampainya di tempat yang telah disepakati, kami melihat Tim 2 belum selesai mengkur Arus di titik yang lokasinya dibawah kami berdiri. Arus di titik 3 ini memang besar, jadi wajar saja mereka lama, pikirku. Tim 1 pun turun ke sungai untuk membantu Tim 2. "Disini tinggal Bioindikatornya doank, tapi Titik 4 belum. Bantu ya" kata muslih. "Ya udah kita keroyok aja, biar cepet kelar", Aan meng"iya"kan.
Menyingkat waktu, setelah selesai di Titik 3, Kamipun beranjak menuju Titik terakhir. Perjalanan menuju lokasi kami bertemu dengan Tim yang melakukan wawancara. Widi menyarankan untuk singgah dahulu di Vihara yang ada di tengah Kampung. Penasaran, kamipun sepakat untuk menerima tawaran itu.

Vihara yang menyimpan sejarah Kampung Geulis ini bersih terawat. Didalamnya terdapat banyak patung2 khas budaya Cina. Aroma dupa menyengat hidung ketika memasuki ruangan. Di sebelah kiri, ada rak buku yang berisi buku2 tentang budaya seperti ajaran hidup, pengobatan, mantra2 dll. Di belakang ada sebuah makam. Yang tak kalah menariknya, ada sebuah batu besar yang ditutup kain putih. Konon, menurut "kuncen" Vihara, jika ada yang bisa merangkul batu tersebut akan mudah mendapatkan Jodoh (Yang pengen cepet nikah,,, datang aja Bos, siapa tahu beruntung:) hehehe).

Samping kanan ada sebuah patung Macan dan di bawahnya ada patung kura-kura. Masyarakat percaya bahwa Pulo Geulis tidak akan tenggelam karena Patung tersebut menjaga Kampung ini. Kami pun berfoto-foto untuk mengakhiri kunjungan ini.

Dari Vihara kamipun bergerak menuju sungai untuk menuntaskan pekerjaan. Karena "dikeroyok" pengamatan di Titik 5 ini pun berakhir dengan cepat. Piuuuh selesai juga pengamatan di Pulo Geulis ini. Seperti biasa Riset diakhiri dengan evaluasi yang dipandu oleh Koordinator Tim Riset Tjiliwoeng.

Terimakasih teman-teman yang tergabung dalam Tim Riset atas kerjasamanya. Ditempat lain Laskar Karung juga membanjiri sungai Ciliwung. Smoga minggu-minggu mendatang sungai Ciliwung selalu di banjiri oleh orang-orang yang ingin mewujudkan mimpi-mimpi Mbah Tjiliwoeng.

(Tim Riset Tjiliwoeng)
, , Bookmark and Share | | edit post

Penggalan Wadjah Tjiliwoeng (2)

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 11:48 AM 0 comments
Sub title: Jembatan Gantoeng Pulo Geulis
(lanjoetan dari tjerita sebeloemnya)

Tak jauh dari kantor kelurahan kira-kira berjarak 10 meteran. Sebelah barat dari kantor kelurahan. Terdapat sebuah jembatan dengan penamaan yang menggugah soal semangat pergerakan yang banyak dimotori oleh kaum pemuda. Jembatan Pemuda. Jembatan gantung yang berwarna cat hijau, yang saat ini dihiasi atribut bendera partai politik yang menjajakan dagangannya, yang membentang di atas sungai Tjiliwoeng dengan panjang kira-kira 15 meteran. Jembatan ini berhadapan langsung dengan Pulo Geulis dengan jarak sekitar 20 meter berada didepannya (sebelah barat sungai) jika dilihat dari hulunya. Ia menghubungkan antara daratan sebelah kiri dan kanan sungai Tjiliwoeng.

Jembatan ini sepertinya harus menjadi base camp media campaign para pejuang Tjiliwoeng Dream, khususnya mbah karuhun Hapsoro, selaku inisiator dan pimpinan Tjiliwoeng Dream. Base camp untuk wilayah kelurahan Baranang siang dan Pulo Geulis serta sekitarnya, yang menjadi salah satu target lokasi pengembalian khasanah kebudayaan Tjiliweong masa lampau serta mengembalikan keelokan keanggunan dan kemurnian Tjilioweng. Ia menggambarkan semangat juang di tengah amuk deras laju jeramnya sungai Tjiliwoeng sebelum membelah dan membentuk delta Pulo Geulis. Hanya pemuda yang bisa memberikan perubahan yang signifikan dan masif. Youth: Change, we believe, mengutip dari materi campaign Presiden terpilih AS, Barrack Obama. Bukan nada tendensius. Tapi menggugah kaum muda untuk bangkit mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”.

Pada sisi jembatan gantung lainnya yang tak bernama. Jembatan yang menghubungkan daratan seberang kanan dari aliran sungai Tjilioweng dengan daratan Pulo Geulis. Aku mencoba mewawancarai seorang penjual jasa pulsa HP sekaligus mengisi pulsa HP. Dalam kesempatan ini aku mencoba sedikit menanyakan tentang kehidupan masyarakat delta Pulo Geulis ini dalam hal suplai air bersih untuk minum dan MCK. Banyak warga yang memanfaatkan air ledeng, Air PAM. Sebagian lagi menggunakan air keruh Tjiliwoeng bagi warga kurang mampu. Dalam proses transaksi pulsa ini aku juga sempatkan untuk menanyakan tokoh masyarakat atau sesepuh dan tokoh pemuda kampung Pulo Geulis. Dari sini aku mendapatkan informasi bahwa tokoh masyarakat kampung ini adalah pak Shodik. Dalam anganku, aku harus ketemu dengan orang ini untuk menanyakan legenda delta dan pemukiman, persepsi masyarakat dan budaya yang berkembang di Pulo Geulis serta pola interaksinya dengan Tjiliwoeng.

Berbeda pada seberang sungai sebelah kiri jika dilihat dari hulunya, nampak perumahan warga rapat merayap. Tak ada sedikitpun ruang terbuka. Hanya kepengapan yang menyelimutinya. Dari lima meter arah timur kantor kelurahan itu, di samping tumpukan sampah yang berserakan di seberang kanan badan sungai. Tak diduga. Ada base camp hunian. Dialah pak Adun (49) seorang laki-laki menjelang paruh abad, yang berasal Rangkas, kabupaten Lebak, mencoba menggantungkan hidupnya dari sampah yang dibuang oleh masyarakat di sekitar kelurahan Baranangsiang. Dia mengais dan memulung sampah warga yang dibuang ke bibir sungai, meskipun tidak sampai hanyut dalam badan sungai.

Dalam kesempatan perjumpaan itu tak lupa aku manfaatkan kesempatan untuk melakukan sedikit wawancara ringan mengenai aktivitasnya. Sebenarnya ada hasrat untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari laki-laki paruh baya dan tunawisma itu. Berhubung tim sosek dan pemetaan “Tjiliwoeng Dream” yang dikomandani oleh saudara Muslich (26) terpaksa wawancara hanya berselang beberapa menit karena hasrus kumpul bersama dengan tim aksi bersih. Hanya berjarak sekitar tiga meteran dari timbunan sampah yang dikaisnya, dia membangun semacam bivak kecil sebagai tempat peristirahatan dan sepertinya sebagai tempat mukimnya hingga masa senjanya. Sambil menyuguhkan sebatang rokok salah satu merek yang terlaris saat ini dan banyak mensponsori tontonan olahraga sepak bola dalam negeri dan mancanegara aku memulai obrolan dengan dia.

“Sudah berapa lama bapak disini?, tanyaku”.
Empat poe? jawabnya. waduh...dalam pikirku apa itu poe. Aku yakin itu poe (sunda) artinya tahun. “Oh begitu ya pak,” jawabku sambil mengangguk-anggukan kepala sebagai simbol bahwa aku tahu maksudnya. Padahal aku pusing apa artinya poe itu.

“Bapak ambil sampah dimana saja?” tanyaku.
“Dari sini, sungai, stasiun, dan jalanan Bogor mas? Ujarnya”. Kontan langsung aku menanyakan pertanyaan lanjutan.

“Dalam sehari bapak dapat berapa kilo dan berapa jual per kilo-nya?” Tanyaku. “Genep kilo per hari. Harganya tilu ribu dan kadang 2,5 per kilo?” Kata Pak Adun.

Bersama dengan rekannya, yang saat itu sedang tidur pulas di bawah rindang pohon di samping tumpukan sampah hasil pulungannya. Dia menuturkan cerita yang banyak didominasi bahasa sunda, yang terkadang aku harus mencerna lebih untuk memahaminya. Dia mengumpulkan sampah yang berjenis plastik seperti gelas, botol plastik air mineral dan sampah berupa kertas-kardus. Setiap hari datang seorang pengumpul untuk membeli hasil pulungannya.

Tugas mulia dan suci pun dilakukannya meskipun dengan pekerjaan yang hina yang sebagian dari kita menilainya. Dari hasil memulung sampahnya dia kirimkan ke istrinya yang berada di lebak. Pria paruh baya yang beranak dua yang telah berkeluarga semuanya, mencoba perntungannya dari sikap yang jauh dari orientasi budaya bersih dan harmoni warga yang membuang sampah-sampah kehidupan.

Tak jauh dari bivaknya, terlihat hasil tumpukan pulungan sampahnya yang sudah dibersihkan. Sampah sisa-sisa hasil sampah pulungannya berserakan begitu saja tanpa adanya usaha untuk mencoba dikumpulkan lagi. Inilah potret bentuk rendahnya pengetahuan dan tingkat kesadaran meraka. Program pendampingan dan penyadaran sangat diperlukan bagi mereka seperti pak Adun ini. Mereka butuh sentuhan dan perhatian kita bersama. Mereka butuh bimbingan dan konseling khususnya soal penanganan sampah. Bukan salah dia sepenuhnya. Salah kita bersama yang secara tak sadar membiarkan dia sendiri dalam ketidaktahuannya dan ketidakberdayaannya.

Memang peran ini seharusnya dilakukan oleh semua stakeholder terkait khususnya dalam penciptaan impian bersama soal Tjiliwoeng Dream.

Aku pikir dia akan berubah jika kita mencoba memanusiakan dia (people to people) dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan yang baik dan dengan cara yang baik pula. “Perubahan hanya ada” jika semua ada hasrat dan inisiatif untuk bergerak. Bukan diam membisu. Menyaksikan kelalaian dan prilaku yang tak harmoni yang dilakukan oleh saudara kita lainnya.

Keterlibatan dan penyadaran terhadap kantor lurah Baranangsiang sepertinya tak boleh terlupakan. Mereka lupa. Lupa akan tanggung jawab dan perannya. Mereka kering. Kering akan aksi sosial kebersamaan. Mereka sendiri. Membutuhkan teman untuk bergerak. Mereka tuli. Karena tak ada pemahaman dan masukan untuknya. Mereka perlu kita semua untuk “Tjiliwoeng Dream”.


Salam
Firin
, Bookmark and Share | | edit post

Semangat !!!

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 9:07 AM 0 comments

Semangat '45

Berbeda dengan kegiatan mulung sebelumnya yang selalu diikuti oleh banyak relawan (lebih dari 20), kegiatan mulung ke lima (12 April 2009) “hanya” diikuti sekitar 16 relawan. Walau berjumlah 16, para relawan ciliwung tetap semangat melakukan kegiatan “mulung” yang ke lima ini.

-

-

-

-

-



Lokasi kegiatan “mulung” sendiri, dimulai dari jembatan pulo geulis (di Jl Riau) menuju ke arah hulu (percabangan sungai ciliwung).

-

-

-

-


Selain kegiatan “mulung” rekan-rekan dari tim riset ciliwung juga ada yang melakukan uji kualitas air, kegiatan ini dimotori oleh HIMASPER dan Lawalata IPB
Jumlah relawan yang banyak ataupun sedikit dalam membantu kegiatan “mulung” setiap hari minggu tidak mempengaruhi semangat para relawan untuk melakukan sebuah aksi nyata.

-

-

-

-

-

Bookmark and Share | | edit post

Mulung Kelima ... Siaaap??

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 12:13 PM 0 comments

PEMILU baru saja lewat ... biarpun baru untuk para wakil rakjat. Masih ada PEMILU lain di depan kita untuk Presiden. Tapi ngapain juga kita harus mikirin itu sampe bingung sendiri. Silakan aja yang mau ikutan PEMILU. Yang gak mau ikutan juga gak ada yang bakal nyalahin koq. Yang jelas .... di depan mata kita semua (terutama) warga Bogor ada Sungai Ciliwung yang kotor, jorok, terbengkalai, jelek, dan rusak. Mau diapain itu?

Gampang menjawab pertanyaan itu ... minimal kotornya sungai perlu dibersihkan. Daripada kita protes doang atau complaint doang, atau diskusiin itu doang ... mendingan langsung kita bersihin kan?

Ayoo .... para warga sekalian. Mari kita turun ke sungai lagi di pemulungan ke-5 (kelima) ini. Mari bersihkan sampah2 yang numpuk dan nyangkut di batu2 dan tepian sungai Ciliwung di Bogor ini. Siaaaap????
, , Bookmark and Share | | edit post

Pulo Tjantiek, wadjahmoe kinie

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 11:59 AM 1 comments
Minggu pagi, 5 April 2009, aku bersama teman-teman yang tergabung dalam tim observasi Ciliwung mengunjungi Pulo Geulis. Hari ini kami akan menyurvei sejumlah titik yang akan dijadikan lokasi pengamatan kualitas air dan menentukan kebutuhan observasi lainnya. Selagi teman-teman asyik survei menyusur sungai mengelilingi pulau, aku memisahkan diri untuk sekedar ngobrol dengan ketua RT setempat, sekaligus memberitahukan secara lisan mengenai rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh tim observasi.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi, anak-anak berkejaran, bapak-bapak duduk santai menikmati libur. Diantara lorong jalan yang dihiasi jemuran pakaian, aku seperti ingin mencari sesuatu yang penting, sesuatu yang perlu digali dari sebuah pulau padat permukiman yang menyisakan sejarah ini.

Tidak lama, akhirnya aku menemukan rumah Pak Tata Sumiarta, ketua RT 5 Pulo Geulis, sebuah pulau yang secara admisnistrasi berada di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan, Bogor Tengah, Kota Bogor. Pulo Geulis terdiri dari lima RT dalam satu RW, entah RW berapa aku lupa menanyakannya,.

Setelah mengungkapkan maksud kedatangan, Pak Tata mulai sedikit bercerita mengenai Ciliwung. Meskipun bukan pelaku sejarah dan tetua, tetapi rasanya apa yang diceritakan dapat menjadi awal yang baik untuk menggali sejarah yang lebih mendalam nantinya.

Dulunya hutan


Beragam cerita masa lalu Pulo Geulis sedikit tersingkap, meski tidak detail, aku merasa ada harapan bahwa Pulo Geulis memang masih memiliki cerita unik dan seru. Cerita yang menjadi bagian dari sejarah dan budaya masa lalu.

Pulo Geulis merupakan pulau yang unik di Kota Bogor, lokasinya dekat dengan Pasar Bogor. Daratan ini berbentuk lonjong seperti sebuah delta yang dikelilingi aliran Ciliwung. Secara persis aku tidak tahu luasannya, mungkin sekitar 5 ha.

Dikisahkan oleh Pak Tata, saat penjajahan Belanda, nenek moyang penduduk Pulo Geulis bermukim di sebuah kawasan yang saat ini digunakan sebagai Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Menurut Pak Tata, warga yang bermukim di sana dipindahkan, mungkin tepatnya dipaksa untuk pindah, dan menempati sebuah delta yang rimbun penuh pepohonan seperti hutan. Inilah kondisi awal Pulo Geulis, saat pertama kali dibuka untuk bermukim warga setempat dari etnis Sunda.

Pulau ini tidak dikelilingi lautan, tetapi aliran sungai. Di dalamnya tumbuh pepohonan besar laksana rimba perawan, dengan gemericik air bening nan segar di sela-sela batu. Dahulu, aliran sungai yang mengelilingi Pulo Geulis tidak selebar saat ini yang telah mengalami erosi badan sungai. Dan tentu saja airnya masih jernih dan sehat untuk diminum langsung. Karena keindahannya pulau tersebut dinamakan Pulo Geulis yang dalam bahasa Indonesia artinya Pulau Cantik.

Menurut kisah lainnya, bahwa pada jaman penjajahan Belanda, terjadi sebuah pertempuran di sebuah wilayah yang disebut Panaragan. Mayat-mayat yang bergelimpangan kemudian dibuang ke pulau tersebut. Tidak hanya itu, pulau tersebut pada suatu waktu kedatangan perempuan cantik yang tidak diketahui identitasnya dan dari daerah mana asalnya. Apakah mereka dari luar Sunda ? apakah mereka dipekerjakan oleh Belanda? Entahlah, Pak Tata pun mengaku tidak mengetahuinya.

Bahwa Pulo Geulis terkait erat dengan sejarah dan budaya masa lalu, itu pernyataan yang tidak terbantahkan. Bukti sejarah yang dapat ditemui di pulau itu adalah sebuah bangunan seperti vihara yang dikeramatkan. Di dalam bangunan tersebut terdapat makam orang pribumi dan Tiong Hoa. Konon, vihara ini adalah salah satu bangunan peribadatan tertua se-Indonesia. Beberapa makam yang ada di lokasi tersebut misalnya Mbah Mangunjaya, Mbah Gebug, Mbah Imam, dan Mbah Buyut Sampurna. Bahkan konon ceritanya lokasi tersebut juga pernah menjadi petilasan Prabu Siliwangi.

Tidak hanya vihara, sekitar tiga bulan lalu, di wilayah RT 5, saat seorang warga sedang menggali tanah, ditemukan amunisi peluru yang kemungkinan dikubur pada jaman Belanda. Mengenai penemuan peluru ini sudah di laporkan ke pihak berwajib.

Hubungan sosial antara pribumi dari etnis Sunda dan Tiong Hoa berjalan dengan rukun, bahkan sampai saat ini. Pak Tata menjelaskan bahwa, saat peringatan hari besar kegamaan, masing-masing komunitas memberikan ucapan selamat, dengan berjalan menyusuri lorong-lorong sambil bersalaman. Sebuah budaya yang banyak ditinggalkan di tempat lain. Meskipun belum dipastikan berapa komposisinya , namun pak Tata memperkirakan sekitar sepuluh persen warga Pulo Geulis Tiong Hoa. Namun akhir-akhir ni ada juga pendatang yang ngontrak atau tinggal sementara di Pulo Geulis, misalnya dari Padang.

Hmmm..aku semakin penasaran menggali ceita yang lebih detail.

Semakin padat


Permukiman sudah sangat padat. Tampaknya sudah tidak mungkin menemukan secuil tanah kosong untuk membangun rumah baru, apalagi untuk bermain bola voli. Warga mesti membangun ke atas untuk urusan menambah rumah. Setiap waktu, masyarakat terus bertambah, ketersediaan ruang semakin terbatas. Sebagai gambaran di RT 5 ada sekitar 145 KK, kalau rata-rata satu keluarga ada 4 orang maka 580 jiwa. Memang belum dipastikan jumlah total warga di Pulo Geulis, tetapi jika kita kalikan dengan 5 RT, maka perkiraan jumlah jiwa di pulau tersebut sekitar 2900 jiwa.

Selain permukiman yang padat, warga yang kebanyakan masih menggunakan air Ciliwung untuk mandi dan mencucui dihantui berbagai permasalahan kesehatan lingkungan. Sebut saja kulitas air yang semakian menurun akibat pencemaran limbah rumah tangga dan sampah dari hulu. Apa yang bisa kita lakukan ?
Parasmu kian redup menantang jaman
Kerut wajahmu kian nyata digerus arus Ciliwung

Tubuhmu semakin renta menopang beban
Pulau Cantik nasibmu kini, ....

(ditulis oleh M. Muslich)

Mulung Keempat ... Siap???

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 6:03 PM 0 comments

Kayaknya gak usah berpanjang kata dehh ... soale ini semua udah jelas. Jelas kan jadwal mulung kita2 di Tjiliwoeng tertjinta ini?

Yup ... silakan saja temen2 lihat pengumuman mulung di samping ini.

Kalo mau lebih jelasnya begini:
"Mangga atuh sadayana warga Bogor ngariung dinten Minggu kanggo mulungan sampah Ciliwung. Urang karumpul heula dina hareupan Kelurahan Baranangsiang (jalan Bangka-Riau) tabuh 07.30 WWIB"
, , Bookmark and Share | | edit post

Penggalan Wadjah Tjiliwoeng (1)

Posted by Tjiliwoeng Dreams On 8:52 AM 0 comments
Sub title: Sampah dan Kantor Kelurahan Baranangsiang

Sambil mengamati dan meng-overview lingkungan perumahan di sekitar sungai Tjiliwoeng aku berjalan sendiri menyusul tim menyusuri jalan Bangka. Siang itu kira-kira pukul 10.23 WIB tanggal 22 Maret 2009, sedari rencana pertemuaan jam 7 pagi di lapangan sempur. Akhirnya aku bertemu dengan Tim Sosek dan Pemetaan “Tjiliwoeng Dream dari arah berlawanan. Tim ini berjalan dari jembatan Saras, Padjajaran hingga tembus ke jalan Bangka. Sedangkan aku menyisir dari arah kebun raya menuju jalan Bangka. Tim yang bertujuan memetakkan titik-titik tumpukan sampah yang berserakan di bibir-pinggir sungai Tjiliwoeng pada sebelah kanan jika mengikuti aliran sungai Tjilioweng.

Dengan berbekal alat pendeteksi koordinat geograpis bumi, GPS dan sebuah kamera SLR Digital tim memetakkan dan mendokumentasikan semua temuan-temuan hasil observasi lapangan. Berhubung tim kali ini lebih memfokuskan pada pemetaan titik-titik sampah sepanjang bantaran sungai Tjiliwoeng keterlambatanku bersama rombongan tidak terlalu berpengaruh pada tujuan utama pergerakan tim kali ini, yang sebelumnya aku didaulat untuk membantu dalam assessment sosial budaya masyarakat bantaran-sempadan Tjiliwoeng.

Sekitar lima meter dari kantor kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Pemerintahan Kota Bogor, sungguh sangat disayangkan dan bagiku sangat memalukan sekali terdapat penumpukan sampah yang berserakan di pinggir sungai pinggir jalan Bangka. Kantor kelurahan yang berdiri kokoh menghadap ke selatan dengan hiasan panorama Gunung Salak, yang tampak menjulang tinggi dan anggun dari kejauhan. Namun hiasan itu tak sebanding dengan hiasan tumpukan sampah berserakan di sepanjang jalan Bangka di bibir sungai Tjiliwoeng. Sebuah perkantoran dengan lokasi eksotis dan strategis. Tidak dijaga dengan cara yang bersih dan elegan pula. Pikirku apa kerjaan pak lurah Baranangsiang? Sungguh dilematis.

Banyaknya sampah ini menunjukkan betapa cueknya dan ketidakpedulian pamong parja (elit local) Baranangsiang dalam mengelola sampah. Peran public awaraness pamong paraja sejatinya seharusnya menjadi superordinat goal (tujuan mulia) dan senantiasa menjadi peran yang terus menerus dijalankan. Namun tidak demikian. Kondisi real itu mengisyaratkan betapa rendahnyanya tingkat kesadaran yang dimiliki oleh para pamong praja kelurahan. Sumpah serapah pun mengalir sendirinya dari pikiranku melihat kelalaian dan ketidakbecusan dalam menjaga kebersihan dan keindahan yang jauh dari sampah. Ohh...Kelurahan Baranangsiang. Aku yakin kalo sumber pendanaan yang dimiliki kelurahan ini cukup untuk memberikan proses edukasi dan penyadaran arti penting kebersihan dan keindahan. Begitu juga untuk penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang cukup memadai. Ternyata peran ini belum maksimal dilakukan.

Anehnya lagi adalah, perumahan di kanan kiri kelurahan Baranang Siang sepertinya adalah perumahan yang lumayan mapan dan elit. Bukan perumahan kumuh. Terus pertanyaannya apa sampah ini sampah para pejalan kaki? Tapi kenyataannya sampah ini berserahkan pada titik-titik tertentu. Inilah sketsa kompleksitas masalah yang nantinya akan kita hadapi bersama dalam mewujudkan “Tjiliwoeng Dream”. Tjiliwoeng Bogor.


Salam
Firin
, Bookmark and Share | | edit post

    Arsip2 Tjiliwoeng
    Label:
    Recent Posts
    a
    ViDEO lainnya.

    Labels

    -----------------------  Global Voice -----------------------
    Komoenitas Pedoeli Tjiliwoeng
    Saoeng Tepijan Soengaij Tjiliwoeng, Jalan Sempur Kaler No. 111 Paviliun, Bogor 16129 Tel./fax. 0251 8320 275 +++ e-mail: tjiliwoeng@gmail.com +++ kontak: Hari Yanto (0856-1235298), Ruby Vidia Kusumah (0878-78757205), Dwi Lesmana (0856-1400369), Een Irawan Putra (0815-9753580), Hariyono (0811-1109607), Adrianto Agung (0817-821135), Hapsoro (0815-85719872)
    TopBottom